Mendambakan Harum Aroma Kopi dari Atap Merapi

Muchus Budi R. - detikNews
Senin, 05 Jun 2017 22:08 WIB
Foto: Muchus Budi Rahayu/detik.com
Boyolali - Sejumlah pihak mengupayakan sebuah 'lanskap Merapi berkelanjutan'. Hutan yang tetap lestari dengan memiliki nilai ekonomi yang tinggi adalah tujuan yang ingin dicapai. Sebagai pilihannya, lahan seluas 500 hektar di hutan rakyat kawasan hunian tertinggi di Merapi akan ditanami kopi.

Lahan yang dipakai terletak di 4 desa di lereng Merapi, yaitu Desa Tlogolele, Suroteleng, Wonodoyo dan Ngargomulyo. Penanaman perdana dilakukan di Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Selo, Boyolali, Senin (5/6/2017). Dusun ini merupakan pemukiman tertinggi di lereng Merapi. Letaknya di ketinggian 1.200 mdpl dan hanya sekitar 3 km dari areal puncak Merapi.

Kepala Desa Tlogolele, Widodo, memaparkan pohon kopi jenis Arabica sudah ditanam warga setempat di pekarangan masing-masing sejak 10 tahun terakhir. Selain memiliki nilai ekonomi, pohon kopi juga mampu menahan erosi menjaga cadangan karbon dan air tanah.

"Hasilnya semakin lama semakin bagus. Beberapa waktu terakhir mereka mendapat pendampingan dari beberapa pihak. Sekarang akan dikembangkan ditanam di hutan rakyat. Untuk kawasan Desa Tlogolele mendapat jatah 30 hakter lahan untuk ditanami kopi," ujarnya.

Sejumlah pihak terlibat langsung dalam program perkebunan rakyat itu. Diantara yang menjalin kerjasama dengan warga untuk realisasi hutan kopi rakyat itu adalah Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Pemkab Boyolali, Business Watch Indonesia (BWI) dan Solidaridad.

Pimpinan BWI, Aris Buntara, memaparkan agroforestri kopi dipilih sebagai salah satu upaya konservasi lingkungan karena memberikan manfaat secara ekonomi maupun lingkungan.

Masyarakat dapat menerima penghasilan tambahan dengan mengolah buah kopi tanpa harus menebang pohonnya, sehingga dapat membantu mempertahankan cadangan karbon dan air tanah dalam lanskap. Selama ini, masyarakat memanfaatkan hutan rakyat hanya untuk tanaman kayu dan rumput untuk ternak.

"Kami sudah cukup lama mendampingi warga di sini dan mengetahui sendiri kekhasan citarasa kopi Merapi yang dipetik dan diolah dari kebun-kebun warga. Kami memimpikan produksi kopi yang besar dari Merapi yang akan memberi warna dalam khasanah kopi dunia," ujar Aris.

Hal serupa juga ditegaskan oleh Executive Director Solidaridad International, Nico Roozen, yang mengaku sudah cukup lama mendampingi warga dalam proyek Lanskap Merapi Berkelanjutan. Tujuannya adalah perbaikan lingkungan dan peningkatan ekonomi.

Tanaman kopi sengaja dipilih karena mampu menjadi pelengkap vegetasi tanaman keras di lereng Merapi. Selain itu tentunya punya nilai ekonomi karena buahnya bisa dipetik untuk dijual sedangkan hutannya masih bisa terus terjaga.

"Kopi akan ditanam dengan sistem agroforestri sebagai upaya konservasi hutan Merapi. Rencananya akan diterapkan pada lahan seluas 500 hektar di hutan rakyat di kawasan Merapi. Hutannya tetap lestari, tapi nilai ekonomi juga tinggi dan warganya bisa bekerja di dalamnya," pungkas Roozen. (mbr/bgs)