Joki Ujian Masuk di UMY Tertangkap

Usman Hadi - detikNews
Senin, 05 Jun 2017 15:59 WIB
Foto: Usman Hadi/detikcom
Yogyakarta - Pelaku perjokian ujian tulis di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terangkap. Polres Bantul mengusut kasus perjokian ujian masuk yang terjadi di kamus UMY. Pengguna joki agar lolos tes harus membayar Rp 200 juta.

Terbongkarnya kasus perjokian berkat kecekatan petugas dan pengawas ujian tulis berlangsung. Kasus perjokian ini terjadi saat ujian tulis gelombang III. Jurusan atau fakultas favorit yang menjadi praktik perjokian adalah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat UMY.

Kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polsek Kasihan. Sampai saat ini Polsek Kasihan masih mendalami kasus ini dengan meminta keterangan saksi-saksi. Polisi baru mengamankan RR (26), warga Pasuruan, Jawa Timur. Sejumlah barang bukti seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan foto copy lembar jawaban soal juga diamankan.

Kapolsek Kasihan Kompol Supardi menjelaskan setelah mendapat laporan dari pihak UMY, RR langsung dibawa ke Mapolsek Kasihan.
"Laporan dari UMY sudah kami terima. Saat ini pemeriksaan masih berlangsung," kata Supardi di Mapolsek Kasihan, Senin (5/6/2017).

Kasus ini terbongkar setelah salah satu peserta, MF asal Bekasi, Jawa Barat dicurigai menggunakan jasa joki. Pada awalnya setelah mengerjakan Computer Based Test (CBT) di UMY, pada hari Sabtu (3/6/2017) di parkiran kampus, MF didatangi seorang mengaku bernama Vito dan menawarkan cara masuk ke UMY dengan mudah.
Pertemuan itu berlanjut di sebuah home stay di Jalan Kaliurang, MF dan Vito membicarakan teknis cara masuk ke UMY.

"Akhirnya ada kesepakatan kalau lolos ujian MF harus membayar Rp 200 juta. Orangtua MF juga sudah setuju. Namun saat pelaksanaan ujian Minggu (5/6/2017) upaya perjokian ini terbongkar petugas ujian," katanya.

Modusnya RR selaku joki ikut melaksanakan ujian. Namun namanya pas ujian beridentitas 'Sri Rejeki' beralamat Malang. Setelah RR merampungkan soal, lalu dia mengganti nomor dan nama sesuai identitas MF. Di waktu bersamaan MF juga tetap melangsungkan ujian, saat merampungkan soal dia mengganti identitasnya Sri Rejeki.

"Jokinya perempuan, dalam ujian itu RR pakai nama Sri Rejeki. Sementara MF sebagai pengguna jasa joki juga ikut ujian sesuai nama aslinya, tapi saat mau mengumpulkan lembar soal, identitas dihapus, diganti pakai nama Sri Rejeki. Harapannya MF akan dapat nilai baik dan lolos," katanya.

Supardi melanjutkan, saat melangsungkan ujian antara RR dengan MF tidak saling tahu. Artinya keduanya hanya menjalankan instruksi oleh seseorang, yang sampai saat ini orang tersebut keberadaannya masih diusut kepolisian. Sementara RR sendiri mengaku dapat order joki dari AD.

"Dugaan kami memang ada aktor intelektualnya dibalik semua ini. Karena antara MF dengan RR juga Ml tidak saling tahu saat ujian, sehingga pas ujian MF tidak tahu juga mana jokinya. Sebaliknya RR juga tidak tahu siapa orang yang menggunakan jasanya," katanya.

Kepala Biro Humas dan Protokol UMY, Ratih Herningtyas membenarkan adanya kasus perjokian tersebut tetapi tidak bisa menjelaskan secara detail "Iya, tapi untuk soal itu detailnya, kami tidak tahu. Sudah ditangani kepolisian," katanya. (bgs/bgs)