Ribuan orang tumpah ruah di Jl Slamet Riyadi tanpa melihat ras, suku, maupun agama. Mereka ada yang berolahraga seperti berlari-lari, jalan kaki, bersepada atau sekedar nongkrong saja.
Semangat mewujudkan persatuan dalam kebhinnekaan itulah yang diusung dalam HUT ke-7 SCFD hari ini, Minggu (22/5/2017). Tema tersebut dinilai pas dengan kondisi Indonesia saat ini. Masyarakat diharapkan dapat kembali mengingat pentingnya toleransi di negara yang majemuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di akhir acara, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Sekda Surakarta Budi Yulistianto, Kepala Dishub Surakarta Hari Prihatno dan enam pemuka agama melepaskan burung merpati. Setelah itu, mereka bergandengan tangan sebagai simbol persatuan.
"CFD kan ibarat rumah besar NKRI. Isinya bermacam-macam suku, agama dan golongan, bahkan dari Papua juga ada di sini. Kita merajut kebhinnekaan menuju kebersamaan," kata Rudy, sapaan akrab wali kota Solo itu.
Sebagai penyelenggara, Kepala Dishub, Hari Prihatno menambahkan, HUT ke-7 SCFD melibatkan 40 kelurahan dan komunitas-komunitas yang ada di Solo. Mereka memulai parade dengan berjalan dari Sriwedari menuju panggung utama.
Adapun pemilihan lokasi panggung utama tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang berada di sisi timur simpang empat Gendengan. Tahun ini HUT SCFD dipusatkan di sisi barat simpang empat Gendengan.
"Sisi barat selama ini tidak terlalu ramai dibandingkan di sisi timur. Kita alihkan ke barat, karena kan banyak juga hotel-hotel di sini. Jadi tamu hotel tak perlu ke timur untuk menikmati keramaian CFD," katanya. (bgs/bgs)











































