DetikNews
Jumat 19 Mei 2017, 15:57 WIB

Kisah Guru SD Simego di Pekalongan yang Menginap di Sekolah

Robby Bernardi - detikNews
Kisah Guru SD Simego di Pekalongan yang Menginap di Sekolah Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Desa Simego, Kecamatan Petungkriyono adalah salah satu desa yang berada paling ujung selatan di Kabupaten Pekalongan. Desa ini juga dikenal dengan sebutan desa di atas awan karena setiap hari selalu diliputi kabut dan berhawa dingin.

Desa Simego adalah salah satu dari 9 desa di Kecamatan Petungkriyono dan merupakan desa terpencil yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegera dan berada di sabuk pegunungan Dieng. Desa Simego merupakan desa tertinggi di Kabupaten Pekalongan dengan ketinggian 2.400 mdpl. Dari ibukota Kabupaten Pekalongan harus ditempuh dengan perjalanan sekitar 3 jam lamanya.

Itupun harus melintas di kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Banjarnegara. Jalan kabupaten Pekalongan ada namun tengah dilakukan pembangunan infrastruktur untuk mempermudah akses warga ke ibukota kabupaten. Untuk sampai ke tempat itu harus melewati hutan pinus dan hamparan ladang dengan jalan naik-turun yang belum beraspal.

Di desa tersebut hanya dua sekolah dasar, yakni SDN 1 Simego dan SDN 2 Simego. Jumlah murid kelas VI melakukan ujian total hanya 25 siswa. Rata-rata setelah lulus SD, mereka tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

Lulusan SD yang laki-laki bekerja membantu orangtua di ladang atau merantau ke luar daerah. Sedangkan yang perempuan kebanyakan menikah diusia dini.

Lokasi yang jauh, para guru SD yang mengajar di desa itu terpaksa harus tinggal menginap di sekolah 5-6 hari. Setelah itu baru pulang ke rumah masing-masing dan kembali mengajar pada hari Senin.

Mereka tidur berbarengan dalam satu kamar berukuran sekitar 12 meter persegi. Ruang kamar ukuran 3 x 4 meter itu diisi 3-4 orang. Tidak ada tempat tidur, namun kasur cukup digelar di lantai.

"Para guru sini, kebanyakan pendatang. Kalau dilaju dari rumah masing-masing ke sekolah tiap hari terlalu jauh. Di tempat inilah kita beristirahat dan bermalam hingga sampai lima atau enam hari," ungkap E. Priyo Utomo, Kepala SDN 1 Simego saat menerima kunjungan Bupati Pekalongan Aship Kholbihi di desa tersebut.

Priyo mengaku sudah belasan tahun seperti itu. Dia menginap di ruangan tersebut bersama-sama rekan-rekan guru lainnya.

"Kita tinggalkan keluarga di rumah," tambah Sus Biantara, salah seorang guru SDN 1 Simego.

Dihadapan para guru dan kepala sekolah, Aship Kholbihi berjanji akan melakukan pembangunan sarana prasarana baik ruang sekolah maupun rumah tinggal untuk guru.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terwujud. Biar pengabdian di daerah terpencil ini, mereka bisa konsentrasi mengajar. Ada ruangan yang layak untuk guru dan keluarga," kata Aship

Saat berkunjung di tempat itu, Aship juga mendorong dan menumbuhkan semangat anak-anak SD untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Sebab rata-rata setelah lulus SD, tidak banyak anak usia sekolah yang memlanjutkan ke tingkat SMP.

"Kami mendorong para orangtua agar anaknya mau belajar sembilan tahun," katanya.

Diakui Ahip, SMP di wilayah itu masih merupkan sekolah satu atap. Pihaknya akan meningkatkan menjadi sekolah reguler seperti sekolah lainnya. Hal itu dilakukan sebagai stimulus untuk peningkatan daya minat warga mensukseskan wajib belajar sembilan tahun.
  • Kisah Guru SD Simego di Pekalongan yang Menginap di Sekolah
    Foto: Robby Bernardi/detikcom
  • Kisah Guru SD Simego di Pekalongan yang Menginap di Sekolah
    Foto: Robby Bernardi/detikcom
  • Kisah Guru SD Simego di Pekalongan yang Menginap di Sekolah
    Foto: Robby Bernardi/detikcom

(bgs/bgs)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed