Pameran Seni tentang Wiji Thukul di Yogya Dibubarkan Massa Ormas

Sukma Indah Permana - detikNews
Senin, 08 Mei 2017 18:38 WIB
Beberapa karya lukisan yang tersisa. (Foto: Sukma Indah Permana/detikcom)
Bantul - Pameran seni yang menampilkan karya seniman Andreas Iswinarto di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dibubarkan ormas. Pameran bertema 'Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa' menampilkan puisi Wiji Thukul dan lukisan.

"Kita sedang mempersiapkan dan memasang karya. Tapi ada 30-an orang ormas datang membubarkan dan menurunkan karya," ujar Andreas di lokasi pameran yakni di kantor Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII), Banguntapan, Bantul, Senin (8/5/2017).

Sebanyak 35 lukisan, 20 poster, dan puluhan puisi Wiji Tukul rencananya dipamerkan hari ini hingga 11 Mei 2017 mendatang.

Andreas bercerita, sebelum anggota ormas datang, lebih dulu datang sejumlah anggota kepolisian. Polisi datang untuk menanyakan isi acara.

Saat puluhan anggota ormas datang, Andreas bercerita, tidak tampak ada anggota polisi.

Panitia pameran berusaha mempertahankan karya Andreas. Namun mereka tak bisa berbuat banyak saat 5 karya dan beberapa lembar puisi Wiji Thukul dibawa pergi.

"Ada sekitar lima karya dan sejumlah puisi yang dibawa. Sebagian lain sudah kita pertahankan," kata Andreas.

Andreas menjelaskan pameran ini bertujuan untuk mempelajari tokoh Wiji Thukul sebagai aktivis buruh. Tak hanya itu, bulan Mei juga dinilai sebagai momen peringatan 19 tahun reformasi dan hilangnya Wiji Thukul. Dalam rangkaian acara ini juga akan digelar diskusi soal kebebasan pers.

Pameran yang sama juga sudah digelar di beberapa kota dengan lancar. "Kecuali di Semarang dan Yogyakarta. Rencananya saya akan pameran di kota lain," imbuhnya.

Salah seorang peneliti Pusham UII, Tri Guntur Narwaya, mengaku sempat didorong oleh anggota ormas. "Ini seharusnya tidak boleh terjadi. Ini acara di kampus," kata Guntur.

Direktur Pusham UII, Eko Riyadi bertekad akan melaporkan peristiwa ini ke Polda Yogyakarta. "Sebagai tanggung jawab mereka menjaga dan mengamankan hak asasi kebebasan berekspresi," kata Eko.

Diwawancara terpisah, Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila, DIY Faried Jayen, mengakui bahwa memang pihaknya membubarkan acara ini. Faried mengaku sudah memonitor kegiatan ini sejak beberapa hari yang lalu.

"Kami indikasikan acara ini berbalut gerakan anak turun komunis. Dengan paham ini, kami bukannya tidak boleh. Tapi kami ingatkan ada izin, tidak ada izin juga dari polisi," kata Faried.

"Saya intoleransi dengan komunis dan separatis. Gerakan-gerakan ini kan mengarah ke paham PKI," imbuhnya. (sip/mbr)