Kini komunitas orang Jawa seluruh dunia sudah tiga kali berkunjung ke Jawa. Kedatangan mereka ke tanah Jawa untuk mencari sekaligus mempelajari sejarah dan budaya leluhur. Lantaran banyak orang di komunitas ini tidak tahu sejarah mereka, karena mereka kebanyakan keturunan Jawa yang tinggal di negeri seberang.
Koordinator Group Suriname ndek Londo (di Belanda), Jakiem Asmo Widjoyo (66), bercerita awalnya untuk mengumpulkan orang Jawa seluruh tidak mudah. Tapi kemudian satu per satu keturunan orang Jawa berkumpul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jakiem menyebut sekarang jumlah komunitas orang Jawa seluruh dunia di media sosial ada ribuan, padahal awalnya hanya empat orang. Tapi yang datang ke tanah Jawa dalam Diaspora Jawa kali ini lebih dari 100-an orang. Mereka tak hanya datang dari Belanda, tapi juga Suriname, Malaysia, Singapura, Australia, Kaledonia Baru, keturunan Jawa dari Tondano Sulawesi Utara, Jawa Tongar di Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
"Total wong Londo melu rombongan ono 40, Suriname 6, Malaysia 32, lan Singapura 30. Ono maneh seng teko Australia, karo Meksiko (Total orang Belanda yang ikut rombongan Diaspora Jawa kali ini ada 40 orang, Suriname 6 orang, Malaysia 32 orang,dan Singapura 30 orang. Ada juga yang dari Australia sama Meksiko)," ungkapnya.
Menurut dia dalam acara 'Javanese Diaspora III' ini, ratusan orang Jawa berkumpul di Yogyakarta sejak tanggal 17 - 23 April. Mereka datang dari penjuru dunia dengan satu tujuan, belajar sejarah leluhur dan agar tidak lupa jika mereka juga keturunan orang Jawa.
"Rasane koyok wong seng wes gak mulih (Rasanya seperti orang yang lama tidak pulang)," tuturnya.
Banyak yang dipelajari komunitas ini dalam kunjungan kali ini, seperti belajar filosofi Jawa, belajar aksara hanacaraka, belajar sejarah Mataram, dan lain sebagainya. "Kabeh apik, wes ping telu rombongan mrene, wes marem rasane (semuanya bagus, sudah tiga kali rombongan ke sini, sudah puas rasanya," tutup pria berkewarganegaraan Belanda ini.
Sementara itu Ketua Panitia Diaspora III, Indrata Kusuma Prijadi menambahkan saat bertemu di media sosial pada awalnya anggotanya sedikit sekali, namun hingga lebih dari 7 tahun jumlah anggota semakin banyak.
"Acara ini menjadi momen langka bagi para keturunan Jawa yang tersebar di seluruh dunia untuk menengok kembali tanah leluhurnya. Meski di tanah seberang, mereka masih tetap memegang teguh tradisi dan budaya Jawa yang dibawa leluhurnya.
"Ada banyak kemiripan budaya Jawa yang ada di Suriname, Kaledonia Baru dengan yang di Jawa seni tari, kuda lumping, acara slametan dan berbahasa Jawa ngoko," kata Indra. (bgs/bgs)