Kondisi tersebut karena PLTH Pantai Baru Pandansimo yang diresmikan pada 2011 sampai sekarang belum diremajakan. Sehingga menyebabkan sejumlah alat di PLTH rusak.
Selain peralatan rusak, dari 36 kincir angin sekitar 20 persen di antaranya kini sudah tak berfungsi. Meski demikian, pembangkit dari tenaga surya sebanyak 200 panel sampai kini masih terus beroperasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan peremajaan, kata Iwan, manfaat PLTH bisa terus dirasakan warga setempat.
PLTH ini tiap harinya rata-rata menghasilkan listrik 90 KW ini, digunakan untuk keperluan warga setempat. Terutama untuk menerangi lapak warga di tepi pantai, dan untuk penerangan jalan, hingga keperluan irigasi petani, dan untuk mencukupi kebutuhan air bersih.
"Tiap hari keperluan itu kami sediakan, tapi tidak rutin, tergantung kondisi alam," sebutnya.
Menilik kondisi PLTH ini, Iwan berharap ada langkah konkret dari pemerintah. Jika tidak, dikhawatirkan PLTH tersebut tak bisa berfungsi, yang berakibat persoalan-persoalan yang selama ini diatasi oleh keberadaan PLTH menjadi tersendat, dan yang dirugikan masyarakat.
"PLTH Pantai Baru Pandansimo dibuat sejak tahun 2010, dan diresmikan 2011. Sekarang kami hanya ada sembilan petugas," ujar Iwan.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir yang datang berkunjung siang tadi mengakui banyak peralatan PLTH sudah rusak, terutama karena aus. Akibatnya banyak peralatan yang sudah tidak berfungsi.
"Ini yang harus kita coba, bagaimana ke depan (PLTH Pantai Baru Pandansimo) bisa diperbaiki," ulasnya. (sip/sip)











































