"Ini acara yang ketiga kalinya. Yogyakarta menjadi tuan rumah pertemuan yang akan diikuti diaspora Jawa dari berbagai negara. Sebagian peserta sudah ada yang datang," kata Ketua Panitia Javanesse Diaspora (JDE) III, Indrata Kusuma Prijadi kepada wartawan di Museum Banteng Vredeburg di Jl Margomulyo Yogyakarta, Jumat (14/4/2017).
Menurut Indra peserta acara Ngumpulke Balung Pisah ini adalah masyarakat keturunan Jawa yang ada di Suriname, Belanda, New Caledonia, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia Jawa Tondano di Sulawesi Utara yang sebagian besar adalah keturunan Kyai Mojo, pahlawan nasional perang Diponegoro dan para keturunan Jawa yang tersebar di Indonesia seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan ada berbagai acara di dalamnya seperti pemutaran film dokumenter mengenai masyarakat Jawa di Suriname, bazar, workshop memasak menu Jawa, membatik, stand up comedy berbahasa Jawa "waton njeplak" dengan peserta para diaspora Jawa. Acara ini juga terbuka untuk masyarakat umum.
Dia mengatakan dalam acara seperti dialog antar peserta dari berbagai negara itu juga akan menggunakan Bahasa Jawa, bukan menggunakan Bahasa Inggris, Belanda atau Bahasa Perancis untuk keturunan Jawa dari New Caledonia.
"Bahasa Jawa mereka itu berbeda dengan Bahasa Jawa kita di sini, di Indonesia terutama di Jawa. Mereka berbahasa Jawa ngoko," kata Indra didampingi KPH Wironegoro dan KPH Yudahadiningrat.
KPH Wironegoro menambahkan pada acara ini, Yogyakarta menjadi tuan rumah bagi warga masyarakat Jawa dari seluruh dunia. Meski tersebar di berbagai penjuru dunia, mereka masih mengaku sebagai orang Jawa, keturunan Jawa. Selain mengikuti berbagai kegiatan, mereka juga akan bertemu dengan raja Keraton Ngayogyakarto, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Dialog dengab Ngarso Dalem biasanya menggunakan Bahasa Jawa kromo Inggil atau halus, mereka nanti akan berbahasa Jawa ngoko. Ini menarik sekali dan ini reuninya orang Jawa se-dunia. Mereka juga prinsip, mangan ora mangan kumpul," kata Wironegoro.
Dalam acara ini untuk menandai digelarnya pertemuan dispora Jawa dilakukan syukuran dan tumpengan. Hadir pula perwakilan diaspora Jawa, Norman Pasaribu yang beristri keturunan Jawa dari Suriname. Mereka sebelumnya juga ikut hadir dalam pertemuan diaspora Jawa tahun 2015 lalu. Norman Pasaribu adalah anak komposer musik Amir Pasaribu pencipta lagu Andhika Bhayangkari. (sip/sip)











































