Temuan Dosen Undip ini Bisa Atasi Kelangkaan Cabai

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 25 Mar 2017 10:45 WIB
Foto: Dok, Center for Plasma Research (CPR)
Semarang - Ahli fisika plasma dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr Muhammad Nur, DEA menciptakan alat yang mampu menahan proses pembusukan produk pertanian selama 2 hingga 3 bulan dengan kandungan gizi dan kualitas yang tidak berubah. Alat tersebut dinilai cocok untuk mengantisipasi kelangkaan produksi sayuran, termasuk cabai.

Dengan riset yang sudah dilakukan bertahun-tahun, Nur dan timnya mampu membuat alat untuk menciptakan ozon dengan teknologi plasma lucutan berpenghalang dielektrik. Ozon akan dilarutkan ke air dengan konsentrasi tertentu dan mampu memperlambat proses pembusukan produk pertanian.

"Air yang mengandung ozon bisa disemprotkan, dicucikan juga bisa," kata Nur saat ditemui detikcom di kampus Fakultas Sains dan Matematika Undip Semarang, Sabtu (25/3/2017).

Kandungan ozon dalam air tidak boleh lebih dari 5 PPM. Produk pertanian yang bisa disemprotkan pun berupa sayuran termasuk cabai dan buah, sedangkan biji-bijian belum direkomendasikan. Setelah disemprot atau dicuci, produk pertanian bisa disimpan di cool storage atau lemari pendingin biasa jika dalam jumlah kecil.

"Disimpan ke dalam cool storage dengan suhu antara 10-15 derajat. Kulkas biasa bisa tapi bukan freezer, untuk menghemat energi. Dalam jumlah besar bisa. Jangan sampai suhu 0 derajat, karena menghindari perubahan struktur," tandasnya.

Foto: Dok, Center for Plasma Research (CPR)


Ozon dalam air tersebut menghilangkan bakteri, jamur, dan mikro organisme sehingga pembusukan bisa diperlambat. Namun Nur mengingatkan, kandungan ozon dalam air hanya bertahan 40 menit sehingga harus segera digunakan.

"Air ozon juga bisa menghilangkan pestisida," lanjut lulusan Joseph Fourier University Grenoble, Prancis itu.

Teknik penyimpanan menggunakan ozon tersebut sangat efektif termasuk untuk cabai yang kini harganya terus naik turun. Nur juga sudah mencobanya sendiri pada cabai yang merupakan produk pertanian yang harganya menjadi indikator inflasi.

"Cabai bisa 2-3 bulan. Kalau panen raya bisa menghindari harga jatuh. Kelompok tani bisa gunakan itu," ujarnya.

Alat yang dinamai D'Ozone tersebut terdiri dari beberapa bagian. Salah satu bagian utama yaitu generator ozon untuk mengolah ozon dan menyalurkannya ke air. Dalam satu D'Ozone biasanya terdapat tiga generator agar bisa menghasilkan ozon lebih banyak.

"Sudah digunakan di Magelang dan Kalimantan. Bulan April besok rencananya launching di Boyolali," pungkasnya. (alg/mbr)