Rudy mengatakan kepastian terjadi pendangkalan itu terjadi dia melakukan susur sungai Bengawan Solo. "Dari Serenan di0 Sukoharjo hingga Sewu di Solo, kita lihat ada lima titik pendangkalan. Nanti coba saya usulkan kepada presiden, sedimen bisa dikeruk enggak, seperti di Waduk Gajah Mungkur," kata Rudy, Rabu (22/32017).
Kondisi memprihatinkan yang dia lihat ialah masih banyaknya sampah yang mengalir di sungai. Sampah-sampah juga banyak yang terhenti di pohon. "Hati saya menangis betul, karena saya sejak kecil hampir setiap hari berenang di sini. Dulu airnya bersih. Sekarang kalau berenang di sini bikin penyakit," ujarnya.
Limbah pabrik maupun rumah tangga, menurutnya, juga telah menjadi satu dengan air sungai. Dia mengimbau masyarakat untuk membuat sanitasi di setiap rumah. "Paling tidak kita sudah mulai buatkan sanitasi komunal, septic tank komunal. Di beberapa tempat juga pakai IPAL komunal. Jadi air yang masuk ke sungai sudah disaring," kata Rudy.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Yudi Pratondo, mengatakan, kondisi sungai Bengawan Solo diperparah dengan minimnya daerah resapan air. Air dari dalam kota tidak dapat ditampung oleh tanah, sehingga langsung mengalir ke sungai melalui drainase.
"Debit air perbedaannya sangat jauh saat hujan dan tidak. Debit air saat ini hanya 200 meter kubik per detik, saat hujan bisa 1,200 meter kubik per detik. Artinya air hujan itu langsung mengalir ke sungai," kata Yudi.
Untuk mengatasinya, dia mengimbau kepada masyarakat agar setiap rumah dibuat sumur resapan dengan kedalaman minimal 4 meter. Selain itu, pembuatan lubang biopori juga dapat meminimalkan dampak buruk hujan.
Adapun kegiatan susur sungai dilaksanakan dalam rangka Hari Air Dunia yang jatuh pada hari ini. Sebanyak 22 perahu karet menyusuri sungai dalam waktu sekitar satu jam.
(mbr/mbr)











































