Kegiatan itu dilakukan di kampung Wonodri Sendang, Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan. Bersih-bersih sendang sudah dilakukan hari Sabtu (4/6) kemarin dan dilanjutkan hari ini, Minggu (5/6) dengan festival bubur.
Prosesi diawali dengan bubur yang disusun dalam gunungan dari janur kemudian diarak warga menuju lokasi acara yang berada di depan Sendang Wonodri atau tepatnya di belakang RS Roemani Semarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Angling AP/detikcom |
"Ini untuk nguri-nguri budaya terutama menjelang bulan Ramadhan. Dulu ada tradisi wayangan, karena kondisi, maka festival bubur. Kalau sendang setiap tahun dibersihkan," kata ketua panitia sekaligus ketua RW 05 Kelurahan Wonodri, Tri Siswanto (50), Minggu (5/6/2016).
Berbagai kebudayaan seperti tarian Gambyong, Rebana, hingga musik akustik digelar untuk meramaikan festival. Warga pun berkumpul termasuk anggota DPD RI, Bambang Sadono.
Selain itu, ada perwakilan dari 10 RW yang datang membawa 10 jenis bubur untuk dimakan gratis oleh warga sekaligus mengenalkan keanekaragaman bubur yang ada di Kota Semarang.
Foto: Angling AP/detikcom |
"Ada bubur Candil, bubur Telo, bubur Telo Pohong, bubur Sagu, bubur Jangan, bubur Merah Putih, bubur Mutiara, dan bubur Tujuh Warna," tandas Tri.
Seorang seniman kemudian membacakan puisi diiringi musik akustik dengan tema memanggil air sendang. Setelah itu pembacaan doa dilakukan dan gunungan bubur diarak ke pinggir sendang lalu melelangnya. Siapa sangka ternyata bubur tersebut laku Rp 1 juta.
Foto: Angling AP/detikcom |
"Ini dilelang dan hasilnya untuk memperbaiki lampu di sendang agar tidak gelap saat malam," ujar Tri.
Tri dan warga Wonodri getol mempertahankan budaya meski berada di tengah Kota Semarang, hal itu juga didasari karena sendang di sana sudah ada sejak berdirinya Kota Semarang 469 tahun yang lalu.
"Sendang ini berkaitan dengan berdirinya Kota Semarang. Bahkan Ki Ageng Pandanaran sebelum memimpin Semarang, ini sudah ada," terang Tri.
Foto: Angling AP/detikcom |
Warga juga percaya sendang yang airnya tidak pernah kering itu sering dikunjungi Soeharto saat masih menjabat sebagai Pangdam Diponegoro.
"Pak Harto jaman jadi Pangdam sering mandi di sini," kata Bambang Sadono saat memberikan sambutan.
"Sampai sekarang kadang banyak yang datang bawa sesajen dan dupa," pungkas Tri. (alg/try)












































Foto: Angling AP/detikcom
Foto: Angling AP/detikcom
Foto: Angling AP/detikcom
Foto: Angling AP/detikcom