Ketua komunitas Reptil Retic's, Azmi (30) mengatakan ular piton yang hidup di perkotaan biasanya habitatnya berada di gorong-gorong. Sedangkan mereka akan keluar saat gorong-gorong tersebut tergenang air atau rusak.
"Di sekitar situ kan gorong-gorong banyak. Kemarin hujan deras mungkin banjir, pada keluar. Bisa juga karena habitatnya rusak karena ada pembangunan-pembangunan," kata Azmi kepada detikcom, Kamis (25/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu ada indukannya. Musim dia bertelur itu akhir tahun. Menetas di awal tahun, wajar kalau keluar banyak," ujarnya.
Baca: Ular yang Teror Warga Semarang Tak Cuma Muncul di Jalan, tapi di Meja Makan
Menurut Azmi, ular piton tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Karena itu, jika warga menemukan ular tersebut, jangan langsung menyerang.
"Piton itu melilit dan menggigit tapi tidak berbisa. Mereka tidak menyerang kalau tidak diserang dulu. Tapi ya warga awam mungkin takut atau ada yang ingin langsung pegang," ujarnya.
Dimungkinkan ular-ular yang keluar ke pemukiman akan semakin berkurang jika sudah ada habitat baru. "Kalau sampai kapannya tidak tahu, mungkin sampai mereka sudah memukan tempat baru," tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, puluhan ular "meneror" warga Anggrek Semarang Tengah sejak sebulan terakhir. Ular-ular itu muncul di tanah kosong, rumah kosong, di kamar mandi hingga meja makan di rumah warga. (alg/trw)











































