Air Waduk Kedungombo Makin Susut, Karamba Ikan Tandas

Air Waduk Kedungombo Makin Susut, Karamba Ikan Tandas

Muchus Budi R. - detikNews
Senin, 02 Nov 2015 14:59 WIB
Foto: Muchus Budi R/detikcom
Sragen - Genangan air di Waduk Kedungombo terus menyusut sepanjang musim kemarau panjang tahun ini. Hingga awal bukan November ini, penyusutan ketinggian air telah mencapai belasan meter jika dibanding ketinggian air normal di musim penghujan. Akibatnya banyak jaring karamba terapung (jakapung) milik petani ikan setempat yang mengalami tandas sehingga harus dipindah ke lain tempat yang lebih dalam.

Banyak petani ikan di Waduk Kedungombo, Jateng, terpaksa memindahkan jakapung milik mereka ke lokasi genangan yang masih cukup dalam. Hal tersebut dilakukan karena lokasi yang ditempati saat ini sudah tidak memungkinkan untuk digunakan karena air semakin dangkal.


Sunardi, petani ikan karamba di kawasan Boyolayar, Sumberlawang, Sragen, mengatakan semula keramba berada di lokasi yang cukup ideal untuk memelihara ikan di dalam keramba. Lokasi ideal itu adalah berada di perairan yang cukup dalam namun juga tidak jauh dari daratan untuk memudahkan melakukan mengantar pakan ikan maupun memindahkan ikan ke dalam mobil khusus ketika dilakukan panen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun pada kemarau tahun ini penyusutan volume air sangat drastis. Ketinggian air berkurang hingga belasan meter. Dengan demikian luasnya area genangan juga semakin sempit. Pengusutan air dari daratan dibanding musim penghujan mencapai lebih dari 50 meter.

"Semula lokasinya ideal, tapi sekarang sudah tidak memungkinkan bertahan di tempat ini. Ketinggian air di lokasi ini tinggal sekitar 5 meter, padahal ketinggian jaring untuk karamba mencapai 7 meter. Jaring keramba sudah kandas di dasar waduk, tidak lagi mengapung. Risikonya gampang rusak dan ikan juga menjadi kurang sehat karena terkena lumpur maupun kotoran dasar waduk," ujarnya, Senin (2/10.2015).


Hal serupa juga disampaikan oleh Daryono, petani ikan lainnya. Menurutnya penyusutan air pada musim kemarau tahun ini merupakan yang paling drastis terjadi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Baru kali ini, jakapung warga mengalami tandas sehingga terpaksa harus dipindahkan agar tetap bertahan dengan tetap mengambil risiko ikan mengalami stres selama proses pemindahan jakapung dengan cara ditarik ke lokasi yang lebih dalam.

"Dipindah ke lokasi yang lebih dalam dan pasti lebih ke tengah. Selain itu juga masih harus mencari-cari lagi karena tidak semua lokasi genangan memenuhi syarat untuk jakapung, padahal japakung warga sangat banyak. Itu pun nanti kalau musim penghujan harus ditarik lagi ke lokasi yang lebih ke pinggir agar memudahkan perawatan dan panen," kata dia. (mbr/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads