Tradisi Masangin ini mulai dilombakan, Jumat (31/7/2015). Pesertanya cukup banyak mencapai 200 lebih peserta. Mereka dari masyarakat lokal, wisatawan domestik dan asing. Lomba ini cukup seru dan lucu sehingga mengundang tawa penonton.
Peserta disuruh memakai topeng monyet, lalu berjalan menuju beringin kembar. Sampai waktu habis yakni selama 10 menit peserta, ada yang berputar-putar sambil berjoget dengan iringan musik tradisional Jathilan dan Reog. Mereka tak sampai ke finish.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muktiarto (55), meski setiap hari ia melihat orang melakukan Masangin namun setelah mencoba sendiri ternyata sulit. Perasaan sudah lurus, namun ternyata berbelok dan keluar garis sehingga didiskualifikasi.
"Kelihatanya sudah bener, ternyata berbelok, malah muter-muter," kata Muktiarto di Alun-alun Selatan Yogyakarta, Jumat (31/7/2015).
Kasubag Program dan Informasi Dinas Pariwisata DIY, Setyawan Kresno Edi, mengatakan tradisi Masangin pada masa kasultanan Mataram Yogyakarta awalnya sebagai tantangan bagi prajurit atau siapapun. Masangin menjadi tantangan untuk mental, kejujuran, kebenaran dan pikiran bersih. Dengan mata tertutup, tetapi prajurit bisa berjalan lurus.
"Sekarang tradisi ini menjadi daya tarik wisata yang unik. Ke depan lomba akan dikembangkan dan mengundang peserta dari seluruh Indonesia," katanya.
Lomba Masangin ini terbuka untuk umum dan gratis. Hadiahnya handphone dan kipas angin. (try/try)











































