Ada dua tim yang melakukan razia di titik berbeda, sedangkan Kepala Disperindag Kota Semarang, Nur Janah dan Kepala Dinas Pertanian, Rusdiana memimpin tim yang melakukan razia di agen di Jalan MT Haryono dan berlanjut ke pasar Dargo yang dikenal sebagai pusat penjualan beras.
Di salah satu toko di Jalan MT Haryono, petugas memang tidak menemukan adanya beras plastik, namun justru mendapati puluhan karung beras Bulog yang siap dijual ke masyarakat. Beras dari pemerintah itu seharusnya tidak dijual bebas dan hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang mampu.
Salah satu penjualnya, Tri Retno Ningsih mengatakan beras Bulog tersebut kualitasnya jelek sehingga banyak orang-orang yang mendapatkan beras itu datang ke tokonya untuk menukar tambah beras yang lebih baik.
"Saya tidak tahu dapatnya dari mana, tapi masyarakat yang dapat itu (beras Bulog) tidak mau pakai buat makan soalnya hitam, kotor, kadang berkutu. Mereka menukar beras yang lebih baik," kata Retno di tokonya, Jumat (22/5/2015)
Beras untuk masyarakat kurang mampu itu kemudian dijual dengan harga Rp 4 ribu padahal dari pemerintah Rp 1.600 per kilogram.
"Netto 15 kg kita dapat kadang 13 kg. Ini biasanya ada yang ambil (beli), sekilo kadang Rp 4 ribu," tegasnya.
Menanggapi hal itu Rusdiana mengatakan jika masyarakat yang mendapatkan beras Bulog merasa kualitas beras tidak layak, maka segera tukarkan dan jangan dijual lagi apalagi dengan harga yang mahal.
"Kembalikan saja ke Bulog kalau tidak layak. Kalau ini dijual lagi negara rugi. Ini bisa dibeli Rp 1.600 per kilogram, itu kalau di dijual lagi berapa," kata Rusdiana.
Usai dari toko di MT Haryono, razia berlanjut di pasar Dargo. Dalam razia yang berfokus pada peredaran beras plastik tersebut, Nur Janah dan Rusdiana "mencicipi" beras dengan mengunyah beberapa butir untuk memastikan apakah beras asli atau plastik.
"Beras asli itu gampang kita patahkan, kalau kita makan agak manis. Warnanya juga tidak terlalu jernih. Kami juga bawa air di gelas air mineral untuk melihat apakah mengambang atau tidak, kalau mengambang berarti plastik," terang Rusdian.
Nur Janah mengatakan pihaknya tidak menemukan adanya peredaran beras plastik di Kota Semarang. Ia pun meminta masyarakat Semarang lebih berhati-hati agar tidak menjadi korban beras plastik.
"Kami minta ke penjual beras agar hati-hati terima pasokan. Kepada masyarakat Kota Semarang hati-hati jika beli beras. Kami lakukan pantauan terhadap harga sekaligus dengan pantaun beras plastik," terang Nur Janah.
"Kami Disperindag bekerjasama dengan Dinas Pertanian, ketahanan pangan, dan BPOM," imbuhnya.
(Angling Adhitya Purbaya/Triono Wahyu Sudibyo)











































