Bantuan air bersih tersebut sangat diharapkan oleh warga desa Kasegeran. Apalagi saat musim kemarau seperti saat ini yang menyebabkan sumur-sumur warga mengering. Sehingga warga hanya mengandalkan pasokan air bersih dari pemerintah atau mencari di sumber mata air yang jaraknya sekitar 3 km.
"Biasanya mengandalkan belik (mata air) yang masih mengalir airnya. Kami juga sering rebutan air bersih kalau pasokan air datang dari pemerintah," kata Yuni (33) warga desa Kasegeran, Jumat (10/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya setiap rumah butuh lima jeriken air bersih, untuk minum dan kebutuhan lainnya," jelasnya.
Dia mengungkapkan saat ini pemerintah tengah membuat sumur bor untuk kebutuhan air bersih seluruh warga desa. "Ini katanya air dari sumur bor baru bisa untuk seluruh warga desa," katanya.
Sementara itu, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Suyanto mengatakan saat ini ada 11 desa dari total 38 desa di Banyumas yang meminta pasokan air bersih. Namun dia mengungkapkan desa-desa lainnya sebetulnya juga mengalami krisis air, tapi belum ada yang mengajukan permohonan air ke pihaknya.
"Berapapun jumlah desanya untuk penyaluran kita siap. Jadi semuanya parah. Walaupun saat ini baru ada 11 desa yang sudah mengirimkan surat permohonan air bersih untuk disalurkan," ucapnya.
Dia mengungkapkan pihaknya mengalami kesulitan karena BPBD hanya memiliki satu truk dengan kapasitas 4 ribu liter. "Untuk memenuhi pasokan air, kami terpaksa menyewa dua truk agar bisa berjalan bersama-sama," jelasnya.
(arb/try)











































