"Meninggal pukul 13.10 WIB tadi. Komplikasi diabetes, sudah lama sakitnya," kata anak keempat almarhum, Thio Haouw Liep saat ditemui di persemayaman RS Pantiwilasa Citarum Semarang, Rabu (20/8/2014) malam.
Semasa hidupnya, Teguh terkenal piawai memainkan wayang Potehi yang merupakan kesenian tradisional dari zaman Dinasti Siong Theng asal daratan Tiongkok Selatan itu. Kecintaannya kepada wayang Potehi dipegang kukuh sampai akhir hayat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama Teguh cukup dikenal karena satu-satunya dalang Potehi di Jawa yang fasih berbahasa Hokkian. Ia sudah memainkan wayang Potehi sejak lebih dari 50 tahun lalu. Bahkan sempat dipenjara karena memainkannya di masa pemerintahan Soeharto. Ia baru boleh tampil di muka umum setelah kepemimpinan Gus Dur.
"Dulu itu dilarang karena pakai bahasa Hokkian dan hanya di perbolehkan di dalam Klenteng. Tapi di dalam tidak mungkin, maka di halaman, itu juga bahasanya sudah dicampur bahasa Indonesia. Akhirnya ditahan seminggu, itu waktu saya masih kecil," kenang Haouw Liep.
Teguh semasa hidupnya sempat khawatir nantinya tidak ada yang meneruskan melestarikan kesenian tua itu di Jawa Tengah karena kurangnya minat mempelajari Potehi. Maka ia pernah berpesan kepada tujuh anaknya agar jika meninggal ada anaknya yang memainkan wayang Potehi di samping petinya.
"Sebelum tutup peti beliau ingin anaknya memainkan Potehi dan wayangnya juga dimasukkan dalam peti. Yang dimainkan wayang kesayangan beliau yaitu Sie Djin Koei seorang jenderal perang bersama istrinya," katanya.
Yang akan memainkannya adalah anak kelimanya,Thio Haouw Lie atau Herdian Candra Irawan dan cucunya, Surya handoko. Haouw Lie dipilih memainkan wayang tersebut karena sering menemani pentas dan paling mengerti teknik dan jalan cerita dari wayang yang rata-rata berkisah tentang perang dengan pesan sosial.
Selain itu, jiwa seni Teguh juga nampak dari altar pemujaan yang dibuat sendiri semasa hidupnya. Pada altar tersebut tertulis sajak dengan huruf kanji, kemudian dibagian bawah ada gambar anjing dan kera yang menggambarkan Teguh dan istrinya, Fransisca Hoo Sian Nio yang sudah meninggal 25 tahun lalu.
"Di bagian bawah ada gambar shio beliau yaitu anjing dan istri atau ibu saya yang ber-shio kera. Gambar dan syair itu memang sudah disiapkan sejak lama bahkan dibuat sendiri," ujarnya.
Seniman kelahiran Demak, 9 Januari 1933 itu meninggalkan tujuh anak yaitu Thio Kaoei Lian, Thio Haouw Poen, Thio Kaoei Hwa, Thio Haouw Liep, Thio Haouw Lie, Thio Koei Hoen, Thio Haouw Too, dan 23 cucu serta satu cicit.
Pihak keluarga berharap putra kelimanya bisa mewarisi dan melestarikan wayang Potehi. Saat ini dalang wayang Potehi banyak di Surabaya dan dilestarikan di sana sehingga sering disebut markas besar wayang Potehi.
"Beliau punya trademark sendiri untuk wayang Potehinya yaitu Tek Gie Hien. Jumlahnya lebih dari 100 wayang," ujar Haouw Liep.
Rencananya jenazah akan dikebumikan di Boja, bersebelahan dengan makam istrinya. Sedangkan saat ini masih disemayamkan di rumah duka RS Pantiwilasa Semarang.
(alg/kha)











































