Rangkaian pesta menyambut datangnya bulan Ramadan di Kota Semarang berlangsung meriah sejak pagi tadi diawali dengan karnaval budaya di Simpang Lima dan karnaval Dugderan yang berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah sampai malam.
Tarian dan atraksi dari siswa TK, SD, MI, SMP, MTS sebanyak 8 ribu peserta di lapangan dan pawai mobil hias di Simpang Lima, Jalan Pahlawan, hingga Taman KB mengawali rangkaian acara menyambut bulan Ramadhan.
Usai karnaval budaya tersebut, rangkaian acara dilanjutkan pukul 15.15 dengan acara utama, yaitu karnaval Dugderan yang dimulai di Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda. Karnaval didahului upacara dengan bahasa jawa dengan irup Walikota Semarang, Hendrar Prihadi selaku Kanjeng Bupati Raden Mas Tumengung Arya Purbaningrat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribuan warga yang sudah menunggu sepanjang jalan Pemuda menyambut meriah karnaval Dugderan. Tidak sedikit warga yang menunggu lebih dari dua jam demi melihat acara yang digelar setiap menjelang bulan Ramadan itu.
"Saya sudah tunggu dari tadi, dari jam 13.00 sama anak-anak. Bagus sekali, semoga tahun besok lebih meriah," kata salah satu warga Anisa kepada detikcom di Jalan Pemuda, Semarang, Jumat (27/6/2014).
Puluhan bahkan ratusan boneka Warak Ngendhog berbagai ukuran dibawa oleh peserta karnaval yang jumlahnya mencapai 6 ribu orang itu. Selain warak, properti karnaval yang paling menarik warga adalah Kembang Manggar, yaitu hiasan dari lidi yang dihiasi kertas warna-warni. Bahkan warga berebut untuk mendapatkan hiasan itu saat peserta karnaval melintas.
"Ini kembang Manggar, biar berkah," ujar salah satu warga.
Rombongan paling akhir yaitu pejabat-pejabat yang menaiki kereta kuda menjadi penutup festival di Jalan Pemuda. Seluruh peserta karnaval masih berjalan menuju Masjid Agung Semarang di Kauman.
Di Masjid Agung Semarang, pembacaan Sukuf Qolakho Halaqhoh, penabuhan bedug diiringi bunyi meriam, pembagian air Al Quran. Ada juga pembagian kue ganjel rel yang berjumlah 8 ribu kue. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk prosesi penyerahan Sukuf Qolakho Halaqhoh kepada Gubernur Jawa Tengah selaku Raden Mas Tumenggung Probohadikusumo.
Muhaimin selaku sekretaris Takmir Masjid Agung Semarang menambahkan, pelaksanaan karnaval Dugderan tahun ini memang berbeda karena dimulai sore hingga malam hari. Hal itu agar tidak bertabrakan dengan waktu salat Jumat dan Asyar. Selain itu jaman dulu budaya Dugderan digelar malam setelah utusan Bupati memberikan hasil melihat rukyah menjelang Maghrib.
"Tapi ini bukan berarti menetapkan kalau Dugderan kemudian besoknya puasa. Ini tradisi untuk menyambut bulan Ramadan, kapan puasanya tetap mengikuti pemerintah," kata Muhaimin.
Nama Dugderan sendiri diambil dari bunyi bedug yang ditabuh Bupati dan suara meriam saat memasuki bulan Ramadan. Dulu, bedug dan meriam dibunyikan ketika bupati mengumumkan awal bulan Ramadan.
(alg/try)











































