"Hasil revisi telah dikirimkan kepada Panitia Pusat SNMPTN pada hari Senin (17/3/2014) kemarin," kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof dr Iwan Dwi Prahasto, kepada wartawan di Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (18/3/2014).
Rivisi tersebut lanjut Iwan, setelah dilakukan diskusi yang diikuti oleh pimpinan universitas, dekan, dan UKM Peduli Difabel dalam Focus Group Discussion (FGD), Sabtu (15/3/2014) kemarin. Dalam FGD tersebut telah direview kembali syarat fisik yang ditetapkan dalam pendaftaran SNMPTN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua prodi di Fisipol, Filsafat dan Psikologi tidak ada syarat fisik. Di FIB hanya Arkeologi saja yang punya syarat fisik. Jurusan atau program studi lainnya di FIB bisa," katanya.
Iwan menambahkan prodi lain yang masih memberlakukan syarat fisik karena mempertimbangkan kebutuhan kondisi fisik tertentu dalam mengikuti praktikum dan kerja lapangan. Penjelasan detil mengapa suatu prodi mensyaratkan kebutuhan fisik tertentu akan disampaikan di laman pendaftaran UGM http://um.ugm.ac.id.
"Penjelasan ini diharapkan dapat membantu difabel untuk menentukan prodi yang sesuai," katanya.
Sementara itu, Mukhanif Yasin Yusuf, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel, menambahkan pada prinsipnya yang sangat diperlukan oleh difabel adalah dukungan non-fisik seperti kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Meski fasilitas fisik seperti akses gedung bagi difabel juga merupakan hal yang penting. Namun kebutuhan tersebut dapat disiasati jika dukungan non-fisik tadi telah terpenuhi.
"Selama ini mahasiswa difabel di UGM tetap dapat mengikuti perkuliahan dengan baik karena adanya dukungan dan kerjasama yang baik dari dosen, karyawan, dan terutama rekan-rekan kuliah," kata Yasin.
(bgs/try)











































