"Cuaca sulit ditebak dari sisi tempat dan waktu. Tapi sekitar 70-80 persen prediksi prakiraan cuaca dari BMKG selalu tepat," ungkap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Yogyakarta, Tony Agus Wijaya, dalam acara diskusi 'Menyikapi Indonesia Darurat Bencana' di kantor Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (28/1/2014).
Tony mengatakan BMKG sulit memprediksi ketepatan kondisi cuaca di suatu daerah akhir-akhir ini. Sebab adanya perubahan pola arah angin dan kondisi geografis yang mengakibatkan kejadian cuaca ekstrem lebih besar frekuensinya dan perubahannya yang terjadi sangat cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semuanya dipicu akibat badai tropis di sekitar Australia, sehingga beberapa daerah di tanah air terkena dampaknya," katanya.
Keunikan posisi geografis ini, lanjut Tony, menambah kompleksitas prediksi iklim cuaca. Meski BMKG memperkirakan kondisi cuaca di Indonesia sepanjang tahun ini tidak terpengaruh el nino dan la nina, perubahan pola arah angin dan persebaran awan, justru mempengaruhi jumlah curah hujan yang turun di suatu daerah.
"Itu tantangan kita dari adanya penyimpangan anomali cuaca. Namun bila terjadi perubahan cuaca yang cepat, pihaknya juga akan segera mengirimkan informasi kepada semua stakeholder di daerah di antaranya BPBD," katanya.
(bgk/trw)










































