Salah satu warga RT 03 RW 10, Isnan (47) bersyukur bisa selamat dari maut. Awalnya ia mendengar suara retakan, setelah dicari ternyata berasal dari tembok rumahnya. Isnan masih belum tahu apa penyebabnya, namun ketika tanah mulai bergerak, ia segera menarik istri dan dua anaknya keluar rumah.
"Pertama saya tidak tahu kenapa temboknya retak. Begitu tanahnya bergerak saya langsung bawa anak dan istri ke luar," kata Isnan di lokasi kejadian, Kamis (23/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bergeraknya pelan, jadi terlihat proses waktu longsor. Tetangga saya semua panik," ujarnya.
Perangkat Desa Trangkil, Sigit mengatakan di daerahnya ada 250 kepala keluarga yang tinggal di sekitar tanah gerak. Hari Selasa (22/1) lalu ada tiga rumah roboh dan pagi ini ada 25 rumah longsor di RT 3 dan RT 6 RW 10.
"22 Januari lalu ada tiga rumah roboh, disusul pagi tadi ada 25 rumah," tandas Sigit.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengerahkan dua kompi pasukan untuk mengamankan lokasi rumah yang longsor karena sudah ditinggal mengungsi pemiliknya.
"Warga yang penting menyelamatkan dulu, kami siap menjaga barang-barang di rumah yang ditinggal pemiliknya yang mengungsi," kata Djihartono.
Meski saat kejadian longor tidak dalam kondisi hujan, namun diperkirakan peritiwa itu dipicu oleh hujan deras hari Rabu (22/1) malam kemarin. Saat ini puluhan warga mengungsi di dua tenda milik TNI dan polisi karena rumah mereka sudah tidak bisa dihuni.
(alg/trw)










































