Dicegat Buruh Soal Upah, Ganjar Diancam 'Modar'

Dicegat Buruh Soal Upah, Ganjar Diancam 'Modar'

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Senin, 18 Nov 2013 18:22 WIB
Dicegat Buruh Soal Upah, Ganjar Diancam Modar
Dok Detikcom
Jakarta - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dicegat oleh dua perwakilan buruh saat hendak masuk ke mobilnya di Hotel Patrajasa Semarang. Ganjar diancam dengan aksi mogok daerah atau 'modar' jika keputusan upah minimum tahun 2014 masih rendah.

Sempat terjadi dialog antara buruh dan Ganjar. Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jawa Tengah Dono Raharjo menanyakan perkembangan proses penetapan UMK. Ganjar pun menjawab dengan enteng.

"Kemarin sudah sepakat to ketemu saya? Menyerahkan ke saya?" kata Ganjar kepada Dono di hotel Patrajasa Semarang, Senin (18/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dono mengatakan, pihaknya kecewa dengan keputusan yang menyebutkan kenaikan upah minimum di Jawa Tengah sebesar 16,6 persen. Dengan angka kenaikan tersebut masih ada sejumlah kabupaten/kota yang upahnya masih di bawah Kebutuhan Hidup Layak (KHL), bahkan di bawah Rp 1 juta.

"Kalau di bawah KHL itu sudah tidak fair. Kami akan mogok daerah alias modar," tegas Dono.

Ia menambahkan langkah Ganjar mempertemukan buruh, pengusaha, dan dewan pengupahan di Wisma Perdamaian beberapa hari lalu menurutnya merupakan perangkap. Ia menganggap pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

"Mengumpulkan pekerja, Apindo di Wisma Perdamaian, itu perangkap. Ya memang pintu terakhir ada pada Gubernur. Tapi sekarang yang di bawah KHL masih tetap," tandas Dono.

"Di Wisma Perdamaian, formulasi upah dari buruh dan pengusaha masih berbeda. Jika 16,6 persen kenaikannya, itu masih jauh dari harapan kami (buruh). Perhitungan kami, di Semarang seharusnya UMK Rp 1,7 juta," imbuhnya.

Pengurus KSPI Jateng Muhron menambahkan sekitar 5.000 buruh dari berbagai aliansi akan melakukan aksi modar dan turun ke jalan mulai hari Selasa (19/11) besok dan hari Rabu (20/11).

"Kami kecewa ternyata UMK sudah diputuskan. Kalau Rp 1,4 juta masih jauh dari harapan. Jawa Timur sudah Rp 2 juta semua," sambung Muhron.

(alg/trw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini