"Mau gimana lagi? Kalau dilarang kita sudah tahu, tapi ini kan bulan puasa, siapa tahu dapat tambah rejeki," ujar Udin (29) salah satu pedagang mangga harumanis yang ikut berjejal di Jalan Otista saat ditemui detikbandung, Rabu (3/9/2008).
Bagi Udin memilih kawasan Jl Otista karena tempatnya biasa mangkal yaitu Jalan Ibu Inggit Ganarsih sepi dikala sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Udin mengaku, dirinya baru memasuki kawasan Jl Otista sekitar pukul 15.00 WIB sampai 19.00 WIB. Jam tersebut merupakan jam padat yang dilalui para orang-orang yang pulang dari rutinitasnya.
Namun di hari ketiga bulan Ramadhan ini, dirinya belum mendapatkan untung lebih dari berjualan mangga harumanis. Dirinya berharap dalam sisa waktu ke depan masih bisa menambal keperluan dapurnya terlebih bekal lebaran.
"Sampai jam segini saja baru dapat Rp. 7 ribu. Puasa kan masih panjang, mudah-mudahan saja masih ada rejekinya," harap pria berkulit hitam ini.
Udin pun tidak khawatir dengan ancaman penggusuran tiba-tiba dari Satpol PP. Dengan seringnya dia tertangkap saat berjualan, dia makin tahu dia bagaimana cara menghadapinya.
"Lumayan sering kalo ketangkap mah. Lebih dari 15 kali," ungkap Udin.
Dalam satu kali tangkap, imbuhnya, dirinya harus menebus sekitar Rp.150 ribu. Nilai tersebut hanya untuk menebus gerobak saja. "Kalau buah hancur. Ya, sudah, rugi saja dihitungnya," keluhnya.
Dari pantauan detikbandung, puluhan bahkan ratusan PKL berjejal di badan jalan menjajakan dagangannya. Dari penjual mangga sampai dengan kurma.
Mereka berebut lapak dengan perparkiran kantor di sekitarnya. Tak ayal suasana ini membuat kemacetan panjang di Jl Otista. (ahy/ema)











































