Pohon-pohon besar dan rindang sepanjang Jl Ganesa adalah pilihan kawanan kowak malam sebagai tempat tinggal mereka. Tak ayal, sepanjang jalan ini pula kawanan Kowak malam 'mengebom' apapun yang berada di bawahnya, termasuk mobil-mobil yang terparkir. Bahkan, jalanan aspal di kawasan Ganesha pun seringkali terlihat putih akibat banyaknya bom-bom kowak malam.
"Selama bulan kemarau, mereka (Kowak malam-red) migrasi ke daerah Gede Bage atau Majalaya," ujar Koordinator Kelompok Kerja untuk Kowak Malam, Bicons, Ahmad Shofyadi, saat dihubungi detikbandung, Rabu (3/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun itu hanya sementara, karena Kowak Malam akan kembali dari tempat pengungsiannya ketika memasuki musim penghujan. "Musim hujan atau bulan-bulan basah, mereka kembali lagi ke Jalan Ganesa," ungkap Ahmad.
Lebih lanjut Ahmad menuturkan bahwa pada musim penghujan atau biasa disebut bulan basah ini, burung-burung kowak melakukan perkawinannya. Selain itu, koordinator kelompok yang mengkhususkan penelitian pada burung kowak ini, menjelaskan bahwa burung kowak termasuk pada kelompok yang adaptis.
"Jadi mereka mampu tinggal dimanapun. Dari mulai pantai sampai dengan dataran tinggi," jelas Ahmad.
Selain itu, kawanan kowak malam ini memiliki peranan dalam sebuah ekosistemnya. Selain memakan belut, ikan, katak dan belut, kowak malam juga menjadi predator tikus.
Ahmad memperkirakan terdapat enam hingga tujuh ratus ekor kowak malam dalam satu ekosistem di Bandung. "Yang masih ada biasanya induk yang mempunyai anak, individu remaja yang sudah bisa terbang jauh, dan individu yang masih dalam kondisi kawin," jelas Ahmad. (ahy/ern)










































