Rupa Bunga Dalam Dua Tarian

Rupa Bunga Dalam Dua Tarian

- detikNews
Sabtu, 30 Agu 2008 08:17 WIB
Rupa Bunga Dalam Dua Tarian
Bandung - Apa yang bisa dikatakan bunga? Semua bisa menjurus ke beragam hal. Karena bunga memiliki tempatnya sendiri baik secara harfiah sebagai bagian dari nafas lingkungan maupun secara makna.

Begitupun memaknakan bunga dalam bentuk seni. Tarian yang dipersembahkan seperti sebuah lakon bergerak dengan bunga sebagai inti. Eksplorasi-eksplorasi tentang bunga itu dipersembahkan dua tarian,tari topeng bunga bendungan dan tari ritus bunga desa.

Kedua tarian ini mencoba mengejawantahkan visi yang disuguhkan Festival Sunan Ambu III yang digelar di Kampus STSI dari 29-31 Agustus 2008 yang bertemakan 'Mencintai "Bunga, Seni dan Kehidupan" Melalui Kesenian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka Nanan Supriatna mensketsa itu dalam karyanya tari topeng bunga Bandungan. Sepuluh orang penari menggunakan topeng dengan gaya Bandungan. Sebuah kreativitas yang mencoba mengaktualisasikan topeng-topeng masa lampau ke dalam nuansa Bandung Kota Kembang saat ini.

Menjadi cerminan Bandung dulu yang sarat akan nuansa bunga yang menjadi daya tarik Bandung walau ditampilkan dalam topeng-topeng dalam nuansa rupa totem. Ukiran-ukiran rupa totem membaur dengan kelembutan bunga yang menjadi ornamen penghias totem-totem itu.

Para penari yang semuanya laki-laki itu tidak menampilkan gemulai. Namun gagah karena mempersembahkan sebuah cerita keperkasaan bunga di masa lalu Bandung. Mengingatkan tarian ritual-ritual di suku-suku pedalaman.

Seperti medley, tarian pun berlanjut pada tari ritus bunga desa. Terinspirasi dari tradisi Pesta Ngarot di Desa Lelela Indramayu, Lina Marliana dan Asep SUlaeman menyuguhkan pertunjukan upacara pseudo kontemporer.

Diawali dengan kedatangan para bujang (pemuda) kemudian menyusul penari-penari Cawene (gadis). Suasana Pesta Ngarot terutama terlihat dalam proses ider-ideran (prosesi mengelilingi desa) oleh cawene dan bujang serta jagat atau berbagai gambaran alam dan penghuninya menurut cara pandang penduduk desa.

Bunga-bunga warna-warni dirangkai menjadi mahkota para cawene. Melambai dalam gemulai gerakannya para cawene. Dalam tarian ini seorang cawene dijadikan sebagai pusat. Umumnya sebuah ritus ada kegiatan yang menjadi inti.

Cawene memulai ritus dengan menari seorang diri sambil dikelilingi cawene lain dan bujang-ujang. Lalu dia memegang wadah berisi air. Ritus pun berlanjut dengan mencipratkan air dengan daun ke sekeliling.

Disambung kembali dengan tarian-tarian. Membentuk lingkaran, memecah, membanjar lalu bergerak lagi secara absurb.
(ema/ema)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads