Hal tersebut dipaparkan salah seorang seniman asal Bandung Tisna Sanjaya kepada detikbandung, Rabu (27/8/2008). Menurutnya, seniman harus tetap bertahan di kawasan tersebut dan menolak bila dijadikan rumah makan ataupun bentuk lainnya.
"Baksil merupakan tempat dan ruang bagi para seniman di Bandung. Baksil itu punya aura tersendiri. Kesejukan serta rimbunnya pepohonan sungguh terasa. Jadi, para seniman tak bisa diusir dari Baksil," tuturnya. Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu saja aksi penolakannya dibuat soft. Misalnya, para seniman bisa melakukan dengan bentuk karya seninya. Lalu para intelektual bisa dengan pemikirannya," pungkasnya. (bbp/ern)











































