Warga membongkar paksa benteng yang terbuat dari campuran batu kali, semen, dan pasir itu menggunakan linggis. Setelah dipukul-pukul dengan linggis, warga menendang benteng, sehingga membuat benteng sepanjang 7 meter dan setinggi 1 meter itu pun roboh.
Pada saat pembongkaran paksa ini tak terlihat polisi berseragam. Para pekerja bangunan yang mengerjakan bangunan di dalam kampus pun tak berbuat apa-apa. Mereka membiarkan warga merobohkan benteng itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kata dia, kenyatannya gedung 10 dengan enam lantai itu dipergunakan untuk perkuliahan. Hanya basement 1 dan 2 yang digunakan untuk lahan parkir. Sementara lantai 3 hingga 5 untuk gedung kuliah dan lantai 6 untuk penghijauan.
Kekesalan warga memuncak, saat pihak universitas membangun benteng di atas trotoar jalan. Awalnya, benteng kampus berada di belakang trotoar jalan, namun kini trotoar jalan menjadi tak ada. Sehingga lebar Jalan Bukit Jarian yang asalnya 4 meter menyempit. "Ini dikerjakan semalam dan jadi pagi ini. Jelas warga kesal," ujarnya.
Dia mengaku tadi pagi pukul 07.00 WIB, warga sudah melakukan aksi dengan mendatangi kampus, namun tak bertemu dengan pihak lembaga. "Kami hanya bertemu dengan pihak pengembang. Mereka koorperatif, mereka bilang terserah warga. Tapi hingag detik ini baik pihak yayasan dan universitas tak ada yang menemui kami," katanya.
Koko menyatakan selama ini warga sudah cukup bersabar dengan kemacetan yang diakibatkan oleh pihak kampus di Jalan Bukit Jarian sebelum dibangunnya gedung tersebut. "Kemacetan pasti akan lebih parah dengan dibangunnya gedung perkuliahan ini," ujar Koko menduga (ern/ern)










































