Hal itu disampaikan Koordinator Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) RS Hasan Sadikin dr Teddy Hidayat, SpKJ dalam seminar Update in treatment for narcotics addiction and hepatitis C di Hotel Ardjuna, Rabu (20/8/2008).
Menurut Teddy berdasarkan hasil penelitian Kreek, pakar adiksi dari Laboratory of the biology of addictive diseases, The Rockfeller University, New York, tingkat keberhasilan terapi tanpa obat atau detoksifikasi hanya 5 hingga 20 persen. "Sementara untuk terapi substitusi mencapai 50 hingga 80 persen," ujar Teddy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam masa kerja yang panjang, terapi ini dapat berfungsi untuk menyelaraskan sistem hormon dan fisiologis dalam tubuh yang telah kacau akibat konsumsi heroin atau putaw yang memiliki jangka waktu kerja pendek," terangnya.
Teddy menjelaskan penggunaan metadon dengan cara diminum jauh lebih aman, daripada menggunakan narkoba dengan menggunakan jarum steril. "Meski steril kemungkinan risiko infeksi tetap ada," katanya.
Karenanya, kata dia, berdasarkan hasil penelitian di beberapa negara termasuk di Indonesia, terapi metadon bisa menurunkan penyebaran HIV. Data HIV/AIDS di Jabar, penyebaran HIV melalui jarum suntik tertinggi. Dari jumlah pasien HIV/AIDS 3.493, sebanyak 2.364 tertular dari penggunaan jarum suntik di kalangan napza.
"PTRM sendiri sejak berdiri Mei 2006 hingga sekarang, kami sudah melayani 200 klien. Rata-rata umur mereka sekitar 29 tahun dengan lama pemakaian heroin sekitar 10 tahun," ungkapnya.
(ern/ern)











































