Menurut penuturannya kepada polisi saat diperiksa di Mapolresta Bandung Tengah, Rabu (20/8/2008), dia datang sekitar pukul 12.00 WIB dengan niatan akan mencuri handphone milik korban. Pura-pura ingin bertemu ayah korban, Enjang (58) yang saat itu sedang shalat Jumat, akhirnya Dini mempersilahkan Andi untuk menunggu di teras rumah.
Mereka berdua sempat mengobrol. Saat itu, Dini mengaku telah kehilangan uang Rp 200 ribu dua hari sebelumnya. "Uang itu saya yang curi, tapi dia tidak tahu," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andi lalu masuk ke dalam kamar Dini dan mengambil enam handphone milik korban. Saat keluar, Dini menjerit. Karena kalut, Andi mengaku memukulkan kembali balok kayu itu ke muka Dini hingga korban terjungkal.
Namun rupanya Dini masih bisa sadarkan diri, dia kembali menjerit. "Lalu saya tusuk dia di bagian leher. Pisaunya kebetulan ada di meja makan. Saya engga ingat berapa kali saya tusuk," ujarnya. Polisi menemukan ada enam tusukan di tubuh korban.
Lalu dia menggusur tubuh korban ke dalam kamar. Di dalam kamar, Andi mengaku sempat melorotin celana dalam korban. "Saya cuma pegang itunya saja, engga saya perkosa. Engga jadi, soalnya wajahnya keluarin darah, jadi saya takut," ujarnya sambil menunduk.
Pisau yang dia pakai untuk membunuh, dia lempar ke plafon rumah korban.
Celana dalam korban yang melorot hingga lulut saat ditemukan, sebelumnya menimbulkan dugaan jika korban diperkosa. Dini ditemukan tewas bersimbah darah oleh ayahnya sendiri sepulang shalat Jumat di kamarnya. Rumahnya di Jalan Babakan Sari, Gang H Rasid No 16, RT 08/11, Kelurahan Babakan Sari. (ern/ern)










































