Kapolsek Kiaracondong AKP Asep Pujiyono mengatakan pelaku pembunuhan sadis terhadap Dini mengarah kepada pegawai ayah korban, A, yang menghilang setelah ditemukannya Dini tewas bersimbah darah di kamarnya, Jumat (15/8/2008).
"Kami sudah memberikan foto A yang sudah diperbesar kepada anggota. Foto itu kita dapat di KTP milik A yang tertinggal di kios milik Enjang (ayah korban-red)," ujarnya saat dihubungi detikbandung melalui telepon, Sabtu (16/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat menyerahkan ongkos, menurut penuturan Yayan, uang yang diberikan A terdapat noda darah. "Dari keterangan saksi ini, kami akhirnya melakukan pengejaran," tambahnya.
Anggota gabungan yang teridri dari Polsek Kiaracondong dan Polres Bandung Tengah disebar ke beberapa stasiun dan terminal untuk mengantisipasi agar si A tak keluar kota.
"Tim sudah disebar ke terminal Leuwipanjang, Soekarno Hatta, Cileunyi, dan beberapa terminal dan stasiun lainnya," ungkapnya.
Enjang, ayah korban mempunyai kios rongsokan yang jaraknya sekitar 200 meter di rumahnya. Sudah dua bulan ini, Enjang mempekerjakan A. Biasanya setiap makan siang, A selalu datang ke rumah Enjang untuk makan bersama. Namun pada hari ditemukannya Dini tewas, A tak menampakan batang hidungnya.
Dini yang merupakan guru honorer di SD Nilem Bandung, pertama kali ditemukan tewas bersimbah darah di dalam kamarnya oleh bapaknya yang baru pulang
Jumatan, pukul 12.45, Jumat (15/8/2008). Dini ditemukan tewas dengan kondisi celana yang dikenakannya setengah merosot dan tidak mengenakan celana dalam.
Β
Dini mengalami luka tusuk di dada dan perut sebanyak 3 tusukan, leher kiri satu tusukan dan kanan satu tusukan, serta di pipi kiri dekat dengan telinganya satu tusukan. Selain itu juga luka lebam di wajah sebelah kanan.
(ern/ern)











































