Omzet Penjualan Bambu Turun Karena Pilwalkot

Omzet Penjualan Bambu Turun Karena Pilwalkot

- detikNews
Selasa, 12 Agu 2008 12:32 WIB
Omzet Penjualan Bambu Turun Karena Pilwalkot
Bandung - Gelaran Pilwalkot ternyata mempengaruhi omzet penjualan bambu. Para pedagang bambu yang biasanya laris tiap bulan Agustus mengaku omzet penjualannya turun.

"Mungkin karena Pilwalkot kemarin masih banyak sisa bambu yang bisa dipakai," ujar salah seorang penjual bambu Maman Suherman (39) asal Cicalengka saat ditemui detikbandung di Jalan Kiaracondong, Selasa (12/8/2008).

Biasanya, menurut Maman, tahun-tahun sebelumnya dirinya bisa menjual hingga 200 batang bambu dalam sepekan lebih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Biasanya mulai dari tanggal 1-13 Agustus saya menjual 200 batang bambu. Sekarang sampai tanggal 12 Agustus baru menjual 50 batang bambu," ujar bapak tiga orang anak ini.

Maman menjual bambu tersebut, dengan cara digendong. Dirinya berangkat tiap hari dari Cicalengka mengenakan kereta api. Bambu-bambu miliknya dia titipkan di lapak rekan seprofesinya, Jojo.

"Saya titipkan bambu saya di lapak Jojo tak jauh dari Stasiun Kiaracondong. Tepatnya di depan pintu rel. Bambu tersebut saya panggul dan jalan kaki keluar masuk gang dan jalan," ungkapnya.

Menurut Maman, dirinya biasa menjual ke wilayah komplek Kembar, Srimahi, Paledang, Lengkong dan Sawah Kurung. Harga satu batang bambu sepanjang 4 meter sekitar Rp 12.500.

"Saya beli dari Sumedang seharga Rp 1.250 lalu saya jual Rp 12.500. Kalau sampai tanggal 13 Agustus masih kurang laku juga, maka saya akan banting harga. Mungkin saya jual Rp 10 ribu per batangnya," pungkas Maman. (afz/ern)


Berita Terkait