Seratusan demonstran FPKBU tiba sekitar 09.30 WIB, Jumat (8/8/2008). Pada saat datang terlihat belasan warga yang berada di sekitar gerbang sekolah. Sementara itu petugas keamanan sekolah baik yang berseragam mau pun tak berseragam memasang pagar betis di depan gerbang yang tanpa pagar tersebut.
Kemudian massa melakukan orasi sambil membentangkan spanduk yang bertuliskan 'Dada Rosada dan Fandam Darmawan penjahat lingkungan'. Massa menilai pembangunan sekolah internasional tersebut tidak memenuhi kaidah lingkungan. Pada saat Koordinator Aksi Rahmat Jabaril berorasi di atas mobil bak terbuka, salah seorang dari warga terlihat ingin berbicara di atas mobil.
Karena tak diberi kesempatan berbicara, warga tersebut marah. "Saya tak merasa dihargai karena tak diberi kesempatan bicara," teriaknya.
Warga sekitar yang jumlahnya bertambah menjadi 30 puluh itu kemudian merangsek ke depan dan menghadang demonstran tepat di depan mobil orasi. Sebagian di antaranya berusaha merebut paksa spanduk, namun tak berhasil.
"Balik maneh, balik! Maneh mah lain urang dieu, urang nu orang dieu mah!" teriak salah satu warga sambil menunjukan KTP-nya. Puluhan polisi yang sejak awal berjaga-jaga di depan gerbang, kemudian berusaha meredam keadaan dengan mengamankan beberapa warga yang dianggap sebagai provokator.
Demonstran lalu melanjutkan aksinya. Mereka masih tetap berorasi. Beberapa di antara demonstran, tepat di bawah bendera putih bertuliskan 'SIS' di depan gerbang membentangkan spanduk putih yang bertuliskan 'Disegel'.
Melihat itu, warga langsung mencabut spanduk itu dan melemparkannya kepada demostran. Pada kesempatan yang sama, petugas keamanan sekolah tanpa seragam mengusir paksa demonstran. Sehingga terjadi aksi sikut dan hampir saja adu jotos. Dalam insiden ini, salah seorang kameraman TV swasta kena sikut sehingga membuat wartawan lainnya turut marah.
Aksi dorong pun tak terhindarkan. Polisi kemudian melerai kedua kubu dan mengamankan para security tersebut masuk ke dalam lingkungan sekolah. Beberapa saat kemudian, akhirnya demonstran membubarkan diri.
Mereka melanjutkan aksinya tepat di depan terminal Dago dengan membagikan pamflet kepada para pengguna jalan yang berisi ajakan untuk menyelamatkan kawasan Bandung Utara yang makin memprihatinkan. (ern/ern)











































