Adalah kegagahan karya para kreator muda jurusan arsitektur beberapa perguruan tinggi di Bandung yang menjadi inti. Sebuah kolaborasi dari karya-karya terbaik mereka. Menjadi bagian dari penguatan Bandung sebagai lumbung kreatifitas sekaligus ajang eksistensi.
"Dengan acara ini kami mencoba menjual karya mahasiswa. Karena selama ini karya mahasiswa dipandang sebelah mata," jelas Radi, mahasiswa Unpar sekaligus Koordinator Harian Galeri Botol. Menurut Radi, beberapa universitas yang terlibat yaitu Unpar, ITB, Itenas, Unikom, Unla dan Upi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karya yang beragam tersebut merupakan media apresiasi lain sebuah kreatifitas. Yang kelak akan memberikan kontribusi bagi perwujudan Bandung sebagai kota kreatif.
Beberapa karya itu masih terbuat dari bahan-bahan yang sederhana, dituangkan dalam miniatur gedung, maket, rangka gedung, juga tulisan-tulisan pendukung yang berkaitan dengan arsitektur.
Misalnya tulisan tentang struktur kayu, finishing bangunan, macam-macam keramik, tentang semen yang semuanya akan memberikan wawasan pada pengunjung tentang ruang dan bangunan.
"Kalau orang membaca ini mereka kan bisa menambah wawasan macam-macam bahan bangunan," tutur Radi.
Sepertinya tak hanya itu, galeri botol yang unik pun menjadi ruang pamer eksentrik. Menjadi pendukung dalam penyampaian pesan dari karya-karya arsitektur tersebut.
Selain pameran karya mahasiswa, ruang fungsional ini akan digunakan untuk pameran seni selama rangkaian Helarfest berlangsung.
Setelah ini, pameran-pameran lain sebagai gambaran pergerakan para mahasiswa dengan karya-karyanya akan ditampilkan. Seperti City Signage, Sabuga Children Youth Art Space dari Jendela Ide, Re-inventing Bandung dan Batik Fraktal serta Galeri Angkot Baru yang sudah digelar.
Seperti 'message in the bottle' yang kali ini gulungan kertas di dalamnya berisi coretan kreatifitas para mahasiswa.
(ema/ern)











































