Pertemuan tersebut dilakukan di Sekretariat Pengurus daerah PSSI Jabar, Jalan Lodaya, Rabu (6/8/2008). Hadir Ketua Harian Persib Edi Siswadi, Dandim Kota Besar Bandung Letkol Dwi Jati, Kabag Ops Polwiltabes Bandung AKBP Sihar Manurung dan perwakilan dari Polda Jabar Kompol Hamsyin dan Ketua Panpel Persib Iwan kartiwan.
Dalam pertemuan tersebut, Letkol Dwi Jati menyatakan aksi anarkis para bobotoh saat pertandingan Persib-Persija membuktikan bobotoh belum dewasa, karena tidak mau menerima kekalahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Kabag Ops Polwiltabes Bandung AKBP Sihar Manurung mengaku sedih dengan kejadian kemarin. "Kekesalan terhadap wasit jangan dilampiaskan oleh bobotoh secara anarkis," jelasnya.
Sementara itu perwakilan Polda Jabar Kompol Hansyim menyatakan pertemuan ini hanya bisa menampung usulan dan saran, belum bisa memutuskan apakah laga kandang Persib bisa digelar.
"Nanti akan saya sampaikan kepada kapolda Jabar. Apa pun keputusannya nanti, kapolda yang akan menentukannya," katanya.
Sementara itu Edi Siswadi mengatakan bobotoh jangan mudah terbakar emosinya. "Jika pertandingan Persib mengecewakan, bersikaplah rasional dan bertindaklah sportif karena sepak bola ini mainan bukan sebagai tujuan kehidupan. Kemarin itu seperti membela agama," katanya.
Dalam kesempatan ini juga perwakilan bobotoh Ketua Viking Heru Joko dan Ketua Bobotoh Maung Bandung Bersatu (Bomber) Asep bomber membuat pernyataan sikap untuk menjaga ketertiban pada sebuah banner.
Dalam banner ukuran 3x1 meter tersebut disebutkan pernyataan sikap bobotoh untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama Persib main di kandang. Pernyatan sikap ini ditandatangani oleh 50 bobotoh. (ern/ern)










































