Anggrek Impor Rajai Pasar Lokal

Anggrek Impor Rajai Pasar Lokal

- detikNews
Minggu, 27 Jul 2008 10:42 WIB
Anggrek Impor Rajai Pasar Lokal
Bandung - Anggrek merupakan tanaman yang tak pernah sepi oleh konsumen, meski anthurium sempat menjadi primadona, namun kini anggrek kembali jadi sorotan. Sayangnya anggrek-anggrek impor lebih banyak diminati pecinta anggrek daripada anggrek lokal.

Hal itulah yang terlihat dalam Bursa Petani Pedagang Anggrek dan Tanaman Hias di Taman Raden Dewi Sartika, Jalan Perintis Kemedekaan, dari tanggal 23 Juli-3 Agustus mendatang. Sekitar ratusan pedagang tanaman hias di daerah Bandung dan sekitarnya menjual beragam tanaman hias dengan anggrek sebagai bintang utama.

Namun menurut beberapa pengusaha tanaman, dari sekian banyak spesies anggrek lokal yang dipasarkan, anggrek-anggrek hibrida dari luar negeri paling banyak diminati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dituturkan oleh seorang pedagang anggrek, Nur (38), konsumen lebih banyak mencari anggrek-anggrek impor. "Warna-warna dan jenis anggrek impor lebih variatif," jelas Nur yang mengambil tanamannya dari pemasok di Lembang. Kios tanamannya sendiri ada di Eldorado, Jalan Setiabudhi.

Menurut Nur, anggrek-anggrek lokal hanya sebatas anggrek bulan dengan variasi warna yang banyak. Anggrek lokal memiliki motif yang lebih menarik dengan motif-motif seperti tutul sehingga salah satunya ada yang dinamakan anggrek leopard.

Nani (43) menyatakan hal yang sama. "Anggrek impor memang paling laku, sekarang saja yang beli anggrek lokal agak sulit," tutur Nani. Nani mengimpor anggrek dari Taiwan dan Bangkok.

Aki (48) seorang pemasok tanaman hias menyatakan bahwa Taiwan memang terkenal sebagai negara pengekspor anggrek. "Perkiraan 60 persen impor 40 persen lokal," jelasnya.

Kelebihan anggrek impor yaitu memiliki warna yang lebih menyala dan ketahanan yang lebih lama karena kelopak bunganya lebih tebal. Anggrek lokal hanya bertahan 2-3 bulan sedangkan anggrek impor bisa bertahan lebih dari tiga bulan.

"Sebenarnya anggrek Taiwan ini adalah persilangan anggrek bulan yang diimpor Taiwan dari Indonesia," jelas Aki. Hanya saja, sambungnya, teknologi Taiwan sudah lebih canggih sehingga persilangannya bisa menghasilkan anggrek-anggrek yang lebih menarik. Harga anggrek impor bisa mencapai Rp 125 ribu tapi anggrek lokal hanya mencapai Rp 50 ribu.

Namun menurutnya anggrek lokal spesies masih unggul dalam masalah harga. "Untuk para kolektor anggrek pasti memilih yang lokal," ungkapnya. Spesies lokal tersebar di berbagai wilayah di Indonesia harganya bisa dijual di kisaran jutaan rupiah.

Lain halnya dengan Sony (24). Menurutnya, penjualan anggrek lokal dan impor seimbang. Hanya saja impor memiliki keunggulan dari segi warna namun kualitas lebih tahan anggrek lokal. (ema/ema)


Berita Terkait