Dalam mitos masyarakat, babi ngepet dianggap sebagai cara seseorang dalam menempuh ilmu tertentu atau untuk mencari kemuliaan. Dalam mitos itu diyakini jika babi tersebut merupakan jelmaan dari manusia yang tengah menempuh ilmu atau mencari kemuliaan.
Belum dikuburkannya bangkai babi, menurut salah seorang warga, Ade Wawo karena warga masih menunggu siapa pemilik babi ini. "Kita siap untuk menyerahkan pada pemiliknya. Kalau ada yang mau ambil, silahkan," ujarnya kepada detikbandung ditemui di komplek pemakaman TPU Cikadut, Minggu (20/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tetap engga ada yang mengaku, siang ini terpaksa kita akan kuburkan. Rencananya akan dikuburkan di belakang krematorium TPU Cikadut," jelasnya.
Kini sudah ada beberapa warga yang bersiap menunggu bangkai babi dari Kampung Sebok. Terlihat sebuah bambu sudah disiapkan untuk mengangkut babi.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada Jumat Sore salah seorang warga melihat seekor babi yang berkeliaran di tempat pekamaman umum (TPU) Cikadut. Kemudian sekitar 50 warga mengepung babi tersebut. Terjdilah kejar-kejaran, sehingga babi tersudut pada sebuang gang buntu. Berusaha melawan, babi sempat menyeruduk warga. Namun kepalanya melah membentu tembok dan pagar. Kepala babi terluka dan 30 menit kemudian babi tewas.
Dikabarkan tak hanya seekor, warga lainnya melihat ada dua ekor. Namun pada saat pengejaran, seekor babi lainnya berhasil melarikan diri. Hingga kini belum diketahui apakah ada warga yang memelihara ternak babi di daerah sana. Warga sendiri meyakini babi temuan mereka merupakan babi ngepet. (ern/ern)










































