Saat ditemui di UGD RS Borromeus, Jalan Ir Djuanda, Senin (07/07/2008) Sore, Apep menuturkan saat itu dia bersama Apep (19), Toto (20), Ade (24), dan Handi (47), sebelumnya disebut Andi, yang merupakan ayah Apep tengah mengerjakan pondasi di kedalaman 8 meter.
"Saat itu engga ada kegiatan mencangkul di atas. Makanya saya aneh kok bisa tanah keras itu ambrol. Karena urukan tanah itu bukan tanah gembur yang mudah longsor," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiba-tiba tanah yang menggunung hasil galian ambrol menimpa Apep, Toto, dan Ade. Saat itu posisi Toto berada paling bawah, kemudian sedikit lebih atas adalah Apep, dan posisi Ade berada paling atas. Hanya Ade yang tertimbun bagian badannya. Sementara Toto dan Apep tertimbun, hingga tak terlihat.
"Suaranya sangat keras sekali. Saya seperti dikubur hidup-hidup, sakit sekali," ujarnya yang kaki kirinya mengalami patah tulang.
Melihat hal itu, Handi yang juga ditemui di RS Borromeus menuturkan dirinya sangat kalut. Beberapa kali dia meminta bantuan kepada pengendara di jalan raya, namun tak ada yang mau membantu.
Akhirnya dengan menggunakan tangan, terus menggali. "Saya menggali hingga lima belas menit. Saya terus mencari Apep anak saya," ujarnya. Saat itu pencarian sudah dibantu oleh belasan warga dan pekerja lainnya.
Beruntunglah, Handi kemudian menemukan lokasi Apep. Saat kepala Apep berhasil menyembul, Handi langsung memberikan minum kepada Apep. Namun karena syok, Handi setelah itu malah pingsan.
Sementara itu Ade sekitar pukul 15.00 WIB, sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan Apep sendiri rencananya akan pulang malam nanti. (ern/ern)
