Lapas Banceuy dan IMPACT Bangun Poliklinik Khusus Napi HIV/AIDS

Lapas Banceuy dan IMPACT Bangun Poliklinik Khusus Napi HIV/AIDS

Baban Gandapurnama - detikNews
Jumat, 04 Jul 2008 12:09 WIB
Bandung - Rawannya penyebaran penyakit HIV/AIDS di lingkungan napi, membuat Lapas Banceuy bekerjasama dengan IMPACT (integrated management for prefention and care & treatment of HIV AIDS) untuk membangun poliklinik yang dikhususkan untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di antara napi.

Kepala Lapas Banceuy Ilham Djaya mengatakan kerjasama dengan IMPACT ini meliputi perbaikan sistem administrasi, peningkatan SDM, serta penambahan sarana dan prasarana.

"Mereka memperbaiki sistem administrasi kita, serta memberikan pelatihan kepada dokter serta perawat kita. Mereka berikan kursus dan pelatihan di luar mengenai bagaimana menangani pasien HIV/AIDS dan cara menanggulanginya. Selama ini, meski perawat terkadang salah kaprah menyikapi penularan penyakit HIV/AIDS," ujarnya usai penandatanganan MoU dengan IMPACT yang disaksikan oleh Kepala Kanwil Depkum HAM Jabar Amar Cho di Lapas Banceuy, Jalan Soekarno Hatta, Jumat (04/07/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya kenapa penyakit HIV/AIDS yang menjadi perhatian, sebab napi khususnya napi narkotika yang biasa memakai jarum suntik rawan terhadap serangan penyakit tersebut.

"Penularannya kan selain berhubungan intim juga karena pemakaian jarum suntik. Bagi pemakai, jarum suntik itu terkadang dipakai beberapa kali dan saling bertukar dengan orang lain," jelasnya.

Para napi, kata dia, akan dicek darah dan diberikan konseling mengenai penyakit HIV/AIDS. "Untuk pengecekan darah akan segera kami lakukan," ujarnya.

Lebih lanjut kata dia, dengan adanya kerjasama ini, sarana dan prasarana poliklinik pun dilengkapi. "Poliklinik ini sebenarnya sudah dibangun setahun lalu, tapi belum representatif," katanya.

Dengan bantuan IMPACT, kini sudah ada 15 bangsal untuk rawat inap napi lengkap dengan alat infus. "Dulu engga ada. Tapi untuk pasien yang musti rontgen seperti untuk pasien TB, kita sudah kerjasama dengan lab swasta," ungkapnya.

Tak hanya itu, tenaga dokter pun kini ditambah. Awalnya hanya ada tiga dokter dan dua perawat. Kini ditambah dua dokter dan dua perawat. "Juga ada dokter spesialis penyakit dalam yang akan datang seminggu dua kali," tuturnya.

Dia menambahkan dalam waktu dekat akan dibangun beberapa ruangan lagi untuk rawat inap dan pemeriksaan, serta ruangan dokter. "Kami berharap ke depannya, poliklinik ini bisa jadi rujukan RS lapas di Jabar," harapnya.

Ihlam menambahkan selain HIV/AIDS, poliklinik juga melayani keluhan penyakit lainnya. "Kami pun konsen dengan penyebaran penyakit TB. Karena penyakit yang menyerang paru-paru ini cukup berbahaya dan mudah penyebarannya," kata Ilham.

Sementara itu Kakanwil Depkum HAM Amar Cho menyatakan dengan adanya poliklinik ini diharapkan bisa menekan penyebaran HIV/AIDS di lingkungan lapas. Namun dia mengaku tidak mempunyai data pasti mengenai jumlah napi yang terkena HIV/AIDS.

Dokter Reinot van Crevel, dokter dari IMPACT mengatakan IMPACT bukan lah NGO seperti yang lainnya, tetapi sebuah LSM yang jaringannya universitas di dunia. Salah satu jaringan perguruan tinggi IMPACT di Bandung adalah Unpad. "Kami yang akan menanggung semua biaya dokter dan obat-obat dan pembangunan sarana dan prasarana. Kerjasama ini akan berlangsung hingga lima tahun ke depan. Diharapkan poliklinik bisa berjalan mandiri nantinya," katanya.

(ern/ern)


Berita Terkait