Kehadiran FO ini ternyata menarik perhatian wisatawan luar kota khususnya Jakarta. Setiap akhir pekan, mobil-mobil berplat B selalu terlihat terparkir memenuhi Kota Bandung.
Dengan datangnya wisatawan ke Bandung tak hanya menggairahkan usaha tetapi menimbulkan efek samping. Keberadaan FO yang rata-rata berada di jalan protokol ini sempat dituding sebagai biang keladi kemacetan di Kota Bandung khususnya saat akhir pekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak bisa disalahkan jika orang berbondong-bondong untuk berbelanja ke kawasan ini. Sederet FO ternama berada di Jalan ini menawarkan produk-produk fashion andalan.
Sebut saja Heritage dengan bangunan bersejarahnya, Galeri Lelaki, Renariti, Stamp, Terminal Tas dan lain-lain. Tak hanya FO, untuk anak muda penggemar distro, 18th (baca: eighten) Park bisa dikunjungi. Puluhan distro berkumpul dalam satu kawasan sehingga memberikan banyak pilihan. Belum lagi tempat-tempat wisata kuliner di Jalan ini makin menambah sesak Martadinata saat liburan tiba.
Sayangnya, FO kini sudah berbeda dengan konsep awalnya. Jika semula FO hanya menjual barang-barang sisa ekspor. Kini barang-barang yang ada di pasaran pun turut memenuhi FO. Bahkan, tak sedikit brand-brand baru yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan sisa ekspor.
(ema/ern)











































