Meski dia mengaku akan menerima dimana pun dia ditempatkan. "Saya ikuti saja apa kata pemerintah. Tapi kalau harus dekat dengan rakyat selayaknya ada suatu tempat yang representatif atau layak," ujarnya saat ditemui seusai acara open House di rumah dinas wagub, di Jl Ir Djuanda 148, Bandung, Jumat (13/6/2008).
Namun dia enggan merinci jelas rumah dinas yang representatif menurut pandangannya itu. Dede hanya menilai rumah dinas yang akan ia tempati tersebut belum mendukung upayanya dalam mendekatkan diri dengan masyarakat. Hal itu, kata dia, bisa dilihat dari open house yang sedang ia selenggarakan. "Saya kasihan lihat tamu-tamu yang datang berdesakan," keluhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah dinas wagub ini memang mempunyai halaman yang tak terlalu luas. Sehingga mobil diparkir di sepanjang Jalan Djuanda. Rumah ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dibangun di atas tanah seluas 900 meter persegi.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah dirinya ingin menempati rumah milik Pemprov di kawasan Rancabentang dimana mempunyai halaman yang luas? Dede tak menjawab secara tegas. "Ah kita terima dimana saja. Kita legowo saja untuk soal ini," pungkasnya.
Rumah di kawasan Rancabentang berdiri di tanah seluas 3 ribu meter persegi. Selama ini, rumah milik pemerintah tersebut diisi oleh kepala Dinas Pendidikan Jabar. Halaman rumah sangat luas, sehingga representatif jika menerima tamu undangan. (ahy/ern)











































