Buruh Tuding Pemerintah Alihkan Isu BBM

Buruh Tuding Pemerintah Alihkan Isu BBM

- detikNews
Rabu, 11 Jun 2008 10:48 WIB
Buruh Tuding Pemerintah Alihkan Isu BBM
Bandung - Kisruh Monas yang berbuntut tuntutan pembubaran FPI dituding sebagai pengalihan isu dari kenaikan harga BBM. Tiga ratus buruh dari kawasan Cimahi menyuarakan hal itu saat melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Rabu (11/6/2008).

Ratusan buruh datang sekitar pukul 09.30 WIB dengan menggunakan mobil angkutan umum dan juga motor. Mereka langsung berkumpul di depan gerbang barat Gedung Sate, sambil melakukan orasi.

Menurut salah satu orator, Widodo, pemerintah sengaja membiarkan wacana pembubaran FPI untuk mengalihkan isu kenaikan harga BBM. "Kami juga menyayangkan sikap mahasiswa di Bandung yang sudah tumpul untuk menyuarakan kesengsaraan buruh akibat kenaikan harga BBM," sesalnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sampai kapan pun, tegas Widodo, buruh akan terus menyuarakan penolakan terhadap kenaikan BBM hingga kesejahteraan buruh meningkat.

Aksi berlangsung tertib. Puluhan polisi yang menjaga gerbang tidak membuat barikade. Mereka hanya duduk sambil memandang para demonstran. Selang 30 menit kemudian, sebagian besar demonstran menepi menghindari sengatan matahari.

Namun tak lama kemudian, sekitar dua ratus buruh dari kawasan Bandung Selatan datang dan turut bergabung. Melihat hal itu, massa yang sudah menepi kemudian kembali ke tengah-tengah aksi.

Pada kesempatan yang sama, sekitar pukul 10.00 WIB, sekitar dua puluh orang yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Muslim (Forkumus) mendatangi Gedung Sate. Karena di gerbang barat, sudah ada ratusan buruh, mereka akhirnya berorasi di gerbang timur.

Sedikit lucu, karena isu yang mereka usung adalah hal yang ditentang oleh ratusan buruh. Forkumus menuntut pembubaran FPI dan menentang segala bentuk anarkisme. Massa membawa beberapa spanduk yang bertuliskan "Islam jangan mau diadu domba" dan "Anti FPI". Meski demikian, aksi puluhan demonstran ini tak mengundang reaksi dari massa buruh.

(ern/ern)


Berita Terkait