Demikian disampaikan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Sobirin. Sobirin kembali menekankan pemangkasan curug Jompong sebagai salah satu solusi untuk mengatasi banjir di Bandung Selatan bukanlah jaminan. Dikemukakannya masalah banjir sangat kompleks, solusi banjir tidak hanya dengan menyodet dan memangkas Curug Jompong.
"Curug Jompong jangan dipapas, jangan diganggu," tutur Sobirin dalam diskusi yang digelar di Sekretariat Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB), Jl Singaperbangsa, Rabu (21/5/2008). Selain dihadiri wartawan, acara ini juga dihadiri Manajer Lahan dan Waduk Saguling Djoni Santoso dan Petugas Sipil dan Lingkungan PLTA Saguling Pitoyo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dipaparkannya, seiring pertambahan penduduk di daerah cekungan Bandung potensi lahan basah di kawasan tersebut dari tahun ke tahun terus berkurang. "Sifat pemukaan tanah yang tadinya mampu meresapkan air, sekarang tidak bisa, sebab sudah tertutup bangunan," jelasnya.
Sehingga ketika musim hujan air tidak terkendali menjadi banjir dan genangan yang menimbulkan bencana.
"Langkah penyodetan curug Jompong belum tentu menyelesaikan masalah banjir di cekungan Bandung, karena akar masalah banjir dimulai dari hulu," jelasnya. Sobirin menuturkan sebaiknya pemerintah belajar dari pengalaman penyodetan sungai Citarum sebelumnya yang dianggap banyak pihak sebagai kegagalan sebuah solusi.
Pada tahun 1986, ungkap Sobirin, saat genangan banjir di cekungan Bandung bisa mencapai 7,5 ribu hektar solusi yang dilakukan adalah mencodet sungai Citarum sebanyak 30 codetan lebih. Tetapi kenyataannya tetap saja terjadi banjir dan genangan. Selain itu, pemangkasan Curug Jompong tersebut akan mempercepat sedimentasi Waduk Saguling.
Menurut sobirin, solusi banjir tanpa menyodet sungai dan kawasan curug yaitu memulihkan kawasan lindung di hulu, dipulihkannya kawasan lahan basah, membatasi jumlah penduduk di kawasan lindung dan perilaku beradab dan bermartabat bagi yang berada di cekungan Bandung.
"Jadi tidak perlu curug Jompong dipangkas, nanti menyesal di kemudian hari," tandasnya.
Diketahui kawasan Bandung Selatan memang sudah sejak lama menjadi kawasan rawan banjir. Setiap musim hujan melanda, seringkali wilayah inilah yang menjadi sasaran air bah yang bisa merendam perumahan penduduk. Pemerintah menilai keberadaan Curug Jompong di wilayah cekungan Bandung menjadi salah satu penghambat lancarnya aliran air dari sungai Citarum sehingga menyebabkan banjir.
Untuk itu pemangkasan aliran sungai Citarum sepanjang 30 kilometer dari Curug Jompong sampai Dayeuhkolot pun mengemuka.
(ema/ern)










































