Demikian disampaikan oleh Sekretaris Kelurahan Ciroyom Ganjar Arimurti saat ditemui di kantor Kecamatan Andir, Jalan Srigunting No 1, Rabu (21/5/2008).
"Ketika ada enam keluarga yang meninggal, itu tidak mungkin digantikan oleh 20 orang keluarga miskin yang tidak terdata. Sehingga RW tersebut tidak menyerahkan data penerima BLT ke kelurahan," ujarnya kepada detikbandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Lurah Kebunjeruk, Wawan Karyawan, yang ditemui di tempat yang sama. Berdasarkan data dari BPS pada 2005, jumlah rumah tangga yang berhak menerima BLT di daerahnya mencapai 297 KK. Namun saat ini, jumlah keluarga tidak mampu mencapai 400 lebih KK.
"Walapun PT Pos memberikan keleluasaan pada kita untuk menggantikan penerima BLT yang sudah meninggal, tapi apa mungkin mengisi 10 warga yang meninggal dengan jumlah 30 warga yang menuntut BLT. Ini tidak mungkin, saya tidak sanggup," serunya.
Wawan memperlihatkan 10 buah kupon yang sudah disilang yang rencananya akan dikembalikan kepada PT Pos Indonesia. Pemilik kartu BLT tersebut sudah meninggal. Karena kebingungan memilih KK mana yang akan diberi, Wawan memilih mengembalikannya. "Lebih baik jumlahnya berkurang, daripada bingung," katanya.
Ketika ditanya bagaimana antisipasi warga yang marah karena tidak mendapatkan BLT, Wawan mengaku pasrah. "Silahkan saja untuk marah, toh saya menjalankan tugas saja. Terus terang kami merasa dipojokkan," tegas Wawan.
(ern/ern)











































