Hal itu mencuat dalam diskusi Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Masjid Istiqomah, Jalan Citarum. Hadir tiga pembicara dalam diskusi ini yaitu Adi sucipto, pengamat ekonomi Unisba, Maman KH pengamat sejarah islam UIN Jakarta, dan Rahmat Kurnia dari DPP HTI. Sekitar 200 orang hadir dalam diskusi ini.
Menurut Rahmat Kurnia dari DPP HTI, seabad kebangkitan nasional yang jatuh pada hari ini malah menjadi kebangkrutan nasional. "Ini karena dalam suasana mengenang seabad kebangkitan nasional, pemerintah bersikukuh menaikan harga BBM," katanya.
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah yang terus bergantung kepada pihak asing. "Makanya sudah saatnya Indonesia cepat bangkit dengan menerapkan syariat Islam. Saat ini pemerintah lebih mementingkan bantuan pihak asing daripada rakyat sendiri," protesnya.
Hal yang sama juga dikatakan Maman KH, dari UIN Jakarta. Menurutnya indikator kebangkrutan nasional bisa terlihat dari banyaknya masyarakat Indonesia yang terbelakang. "Saya rasa 100 tahun kebangkitan nasional gagal, selain ekonomi yang carut marut, pendidikan di Indonesia pun rendah, belum lagi orang miskin yang meningkat," ujarnya.
(ern/ern)











































