Sekitar 9.30 WIB, Rabu (7/5/2008), saat sedang menunggu masuk kelas, Amalia dihampiri oleh seorang ibu muda yang membawa seorang anak perempuan seumuran dirinya yang juga mengenakan baju seragam SD. Mengaku sebagai kawan lama ibunya, si ibu muda itu bertanya-tanya tentang keluarga Amalia. Tanpa merasa takut, Amalia bercerita. Siswi SD Mandiri I Cimahi ini, menyebutkan alamat lengkap kediamannya.
"Tak lama kemudian si ibu anak ini mengajak anak saya untuk membeli jeruk sebentar. Setengah memaksa, akhirnya anak saya ikut si ibu muda itu," ujar Ayah Amalia, Edi Tarmedi, saat berbincang dengan detikbandung, Kamis (8/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian dengan menggunakan angkutan umum, Amalia bersama ibu muda dan satu anak perempuan lainnya berhenti di suatu tempat. "Kata anak saya di dekat WC umum dan ada jembatannya. Saya kira itu daerah Cimindi," ujar Edi.
Saat itu dengan alasan takut ada pencuri, si ibu muda meminta Amalia mencopot kalung, anting, cincin, dan handphonenya. Kemudian dimasukan ke dalam tas
Amalia. Tas itu dipegang si ibu muda.
"Kemudian mereka naik angkutan umum lagi. Akhirnya di sekitar Jalan Rajawali, mereka turun lagi. Dengan alasan mencari sesuatu, si ibu muda meninggalkan anak saya dan satu anak perempuan lainnya bernama Titin di pinggir jalan," tuturnya.
Setelah lama ditunggu, akhirnya Amalia memutuskan menelepon ibunya. Saat mengetahui handphonenya di dalam tas tidak ada, Amalia menangis. "Nah ada warga yang melihat dan langsung menghubungi saya. Di dompet anak saya ada kartu nama saya dan kebetulan Amalia hapal nomor HP saya," ujar Edi.
Saat dirinya ditelepon, waktu menunjukkan sekitar pukul 22.30 WIB. "Ternyata anak perempuan yang dibawa si ibu muda bernama Titin juga korban penculikan. Dia siswi SD di Lembang," ungkap Edi.
(ern/ern)











































