Rumah Jajang berukuran 3x8 meter persegi dengan dinding rumah dan langit-langit terbuat dari bilik kayu. Kondisi rumah Jajang saat ini sebagian atap rumahnya tersapu angin. Beberapa kayu yang menyangga genteng patah. Karena tidak adanya pelindung bagi dari air hujan, maka tak dapat dielakan air hujan pun merembes melalui langit-langit bilik kayu hingga membuat bagian dalam rumah basah oleh air hujan. Beberapa bagian dinding rumah rusak akibat terdorong oleh kayu. Lampu rumah pun dalam kondisi mati.
Menurut Jajang, ada tiga ruangan dalam rumah tersebut yang dipakai untuk tiga keluarga yaitu keluarga jajang dan kelurga anak-anaknya dengan total penghuni 8 orang. Jajang menuturkan pada saat kejadian sekitar pkl 14.00 WIB angin besar datang disusul dengan hujan lebat. Angin bergerak memutar kemudian menerbangkan sebagian atap rumah Jajang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini musibah, saya berharap ada bantuan. tadi walikota Dada Rosada sudah datang, mudah-mudahan akan ada bantuan," tuturnya saat ditemui di rumahnya yang rusak, Selasa (6/5/2008).
Jajang menempati rumah ini sejak tahun 1957. Menurut Jajang, rumah yang ditempatinya merupakan tanah sewa. "Sudah 20 tahun ini yang punya rumah tak menyewakan kalau mau diperbaiki seperti semula tidak seperti permanen. Kalaupun harus dipindah dia siap dan minta bantuan," jelas Jajang yang bekerja sebagai kuli bangunan.
Melihat kondisi rumahnya yang tak lagi layak inap karena basah oleh air hujan, Jajang menyatakan akan mengungsi ke kelurahan atau posko bantuan di pesantren An-Nur. "Atau ke tetangga sebelah yang sudah menawarkan, ujarnya.
Berdasarkan pantauan detikbandung, barang-barang yang ada dalam rumah tengah dibereskan. Kasur-kasur dilipat dan pakaian-pakaian ditata. Beberapa sanak saudara Jajang terlihat datang berkunjung.
(ema/ern)










































