Demikian diungkapkan Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) di Jabar, Henri Hendarta ketika dihubungi detikbandung, Sabtu (3/5/2008). Dari sudut pandang pengusaha, diungkapkan Henri penghematan energi telah dilakukan walaupun tidak ada inpres.
Pendapatan dari sebuah usaha ritel termasuk pusat perbelanjaan dinilai fluktuatif. Pengusaha dituntut dapat mengoptimalkan penjualan sekaligus mengencangkan biaya yang dikeluarkan. Motif ini yang menurut Henri memicu pengusaha galang penghematan energi dari internal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Henri mencontohkan, di sebuah pusat perbelanjaan pemakaian lampu-lampu di pagi dan siang hari sudah diminimumkan, begitu juga dengan penggunaan AC.
"Untuk eskalator, sekarang ini sudah gunakan teknologi sensor. Jadi eskalator tidak berjalan, kalau tidak ada yang menggunakan," jelasnya.
Hal ini dinilai wajar, karena persaingan pasar perbelanjaan sekarang cuku ketat. Sudah menjadi keharusan bagi pengusaha untuk menekan biaya, untuk menjaga kestabilan perusahaan.
"Jadi sebenarnya tanpa inpres pun, pengusaha pasti berusaha hemat energi," ungkap Henri. (twi/twi)











































