Lapas Sukamiskin yang seharusnya untuk tahanan politik, kini turut dijejali oleh tahanan kriminal. Bahkan jumlah tahanan kriminal lebih banyak dari tahanan politik, yang sekarang tidak sampai sepuluh orang. Struktur dan konstruksi bangunan yang berbeda dengan lapas kriminal mendukung peran kaburnya Asep.
"Dari awal pendirian, Lapas di sini (Sukamiskin-red) bukan untuk tahanan kriminal, tapi untuk tahanan intelektual atau Tapol," jelas Kalapas Sukamiskin Rahmat Priyo Sutardjo saat dihubungi detikbandung.
Menurutnya, konstruksi bangunan yang tidak memiliki pagar atau tembok pelindung yang memungkinkan napi kabur.Β "Bangunan di Lapas sukamiskin hanya dikelilingi oleh bangunan-bangunan perkantoran saja. Jadi ketika si napi menaiki plafon dan sampai di atap dia sudah melihat dunia luar," ungkap Rahmat.
Tahun 2007 lalu, Rahmat telah menyampaikan kepada Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia (Dephumham) terkait hal ini. Dephumham menyetujui untuk pembangunan tembok penjagaan setinggi 5-6 meter, namun usahanya belum maksimal oleh karena anggaran Dephumham yang kosong.
Hingga berita ini diturunkan Asep masih dalam pengejaran oleh pihak kepolisian Resort Bandung Timur atas koordinasi pihak lapas. Ketika disinggung keterlibatan pihak lapas terkait kaburnya asep, Rakmat menyanggah jika pihaknya terlibat.
"Kemungkinan dia melarikan diri atas inisiatif sendiri untuk menemui istrinya yang akan kawin lagi," ungkapnya menutup pembicaraan.Β Β
(Andri Haryanto/twi)











































