Demikian disampaikan pengamat politik dari Unpad Dede Mariana. "Jika meniru di Amerika seperti Arnold Swazenegger, tidak tiba-tiba muncul begitu saja, partai mengirimkannya belajar tentang politik selama setahun," tutur Dede saat dihubungi detikbandung, Kamis (24/4/2008).
Dede mencontohkan wacana Rikeu Dyah Pitaloka yang akan maju dalam Pilwalkot Bandung. "Jika partai mengusung Oneng, dia kan sekolah filsafat. Partai harus menyuruh sekolah dulu tentang bagaimana mengatur pemerintahan. Tidak ujug-ujug (tiba-tiba)," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut dia mengatakan popularitas merupakan salah satu pertimbangan partai dalam memilih artis sebagai calon dari partainya. "Tak kenal makanya tak sayang," jelasnya. Menurutnya, menggandeng artis tidak menjadi soal karena mereka juga punya hak yang sama untuk menjadi pemimpin karena dijamin oleh konstitusi.
Terlebih, lanjutnya, kepemimpinan politik sifatnya terbuka. Pemimpin yang belajar secara otodidak tanpa pendidikan formal sekalipun bisa menjadi pemimpin. "Tukang becak pun bisa jadi pemimpin. Tapi mungkin ada komentar, masa sih hanya dipimpin lulusan SD, atau tidak tamat sekolah," ungkapnya.
(ema/ern)










































