Dukungan Pencekalan Dewi Persik Mendengung di Hari Kartini

Dukungan Pencekalan Dewi Persik Mendengung di Hari Kartini

- detikNews
Senin, 21 Apr 2008 12:24 WIB
Bandung - Dukungan pencekalan terhadap penyanyi atau artis berpenampilan seronok seperti Dewi Persik, didengungkan oleh puluhan perempuan Korp HMI-wati (Kohati) Jabar yang merayakan Hari Kartini dengan berdemo di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Senin (21/4/2008). Tak hanya penyanyi nasional, mereka pun menuntut penyanyi lokal turut dicekal.

Aksi yang dimulai pukul 11.00 WIB ini, diikuti oleh 60 perempuan yang berjalan kaki dari Pusdai menuju Gedung Sate sambil menyanyikan lagu RA Kartini. Mereka pun membawa beberapa spanduk yang antara lain isinya 'Save morality nation, tutup pintu-pintu perdagangan perempuan', 'Hentikan kekerasan terhadap perempuan' dan 'Hukum para pelaku kekerasan terhadap perempuan'.

Selain itu mereka pun berorasi secara bergantian sambil membentuk lingkaran. Tidak seperti aksi demontrasi di KPU Jabar, Jalan Garut yang dijaga ketat, aksi ini hanya dijaga beberapa anggota polisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aprilianti, Koordinator Lapangan Aksi, menyatakan pihaknya mendukung sepenuhnya kebijakan beberapa daerah yang mencekal publik figure atau artis baik lokal maupun nasional yang berpenampilan seronok di daerah masing-masing.

"Kami mendukung Pemda yang mencekal Dewi Persik. Tapi jangan hanya penyanyi nasional, penyanyi lokal pun harus diperhatikan. Karena penyanyi lokal terutama dangdut lebih seronok dan lebih parah," katanya.

Aprlianti juga menyatakan pihaknya menyayangngkan penjualan VCD penyanyi seronok yang dijual bebas dan murah di pasaran. Sebab, biasanya penampilan mereka di VCD lebih parah dibandingkan dengan di televisi.

Selain itu, massa juga menuntut pemerintah segera mengesahkan RUU pornoaksi dan pornografi. Pemda pun dituntut untuk membuat Perda yang berkaitan dengan tindakan asusila.

"Kalau dulu Kartini berjuang persamaan hak perempuan, sekarang berjuang menghilangkan aksi bias gender. Perempuan jangan dijadikan objek. Kegiatan pronoaksi dan pornografi, jangan hanya perempuan yang disalahkan," tandasnya.

(ern/ern)


Berita Terkait